Senin, 14 Januari 2013

Abbas Ibnu Firnas




Pada abad ke-8, seorang Muslim Spanyol, Abbas Ibnu Firnas, telah menemukan, membangun, dan menguji konsep pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon lepas 500 tahun setelah Ibnu Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbang.
Sekitar 200 tahun setelah Bacon atau 700 tahun pasca uji coba Ibnu Firnas, barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan. Pada tahun 875, Ibnu Firnas membuat sebuah prototipe atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah bingkai kayu. Inilah catatan dokumentasi pertama yang sangat kuno tentang pesawat terbang layang.
Salah satu dari dua versi catatan konstruksi pesawat terbang Ibnu Firnas menyebutkan, setelah menyelesaikan model pesawat terbang yang dibuatnya, Ibnu Firnas mengundang masyarakat Cordoba untuk datang dan menyaksikan hasil karyanya itu.
Warga Cordoba saat itu menyaksikan dari dekat menara tempat Ibnu Firnas akan memperagakan temuannya. Namun karena cara meluncur yang kurang baik, Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang sangat parah. Cederanya inilah yang memaksa Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan uji coba berikutnya.
Versi kedua catatan ini menyebutkan, Ibnu Firnas lalai memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka untuk mendarat. Dia pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan dia gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.
Cedera punggung yang tak kunjung sembuh mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek-proyek penelitian di dalam ruangan (laboratorium). Dia pun meneliti gejala alam dan mempelajari mekanisme terjadinya halilintar dan kilat. Ibnu Firnas berhasil mengembangkan formula untuk membuat gelas dan kristal.
Sayang, tak lama setelah itu, tepatnya pada tahun 888, Ibnu Firnas wafat dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan uji coba pesawat layang buatannya.
Sekilas tentang Ibnu firnas Abbas Ibnu Firnas atau Abbas Qasim Ibnu Firnas (dikenal dengan nama Latin Armen Firman) dilahirkan di Ronda, Spanyol pada tahun 810 M. Dia dikenal sebagai orang Barbar yang ahli dalam bidang kimia dan memiliki karakter yang humanis, kreatif, dan kerap menciptakan barang- barang berteknologi baru saat itu.
Pria yang suka bermain musik dan puisi ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Spanyol (dulu bernama Andalusia). Masa kehidupan Ibnu Firnas berbarengan dengan masa kehidupan musikus Irak, Ziryab.
Pada tahun 852, di bawah pemerintahan khalifah baru, Abdul Rahman II, Ibnu Firnas membuat pengumuman yang menghebohkan warga Cordoba saat itu. Dia ingin melakukan uji coba terbang dari menara Masjid Mezquita dengan menggunakan sayap atau jubah tanpa lengan yang dipasangkan di tubuhnya.
Dia berhasil mendarat walaupun dengan cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal dengan parasut pertama di dunia. Menara Masjid Mezquita di Cordoba menjadi saksi bisu perwujudan konsep pertama pesawat terbang yang lahir dari pemikiran seorang Muslim.
Keberhasilannya itu tidak lantas membuat Ibnu Firnas berdiam diri. Dia kembali melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori dari gejala-gejala alam yang diperhatikannya.
Karya-karya baru pun bermunculan dari buah pemikiran Ibnu Firnas. mulai dari puisi, kimia, sampai astronomi, semuanya dipelajarinya dengan satu tujuan, yaitu mampu memberikan manfaat bagi umat manusia.
Di antara hasil karyanya yang monumental adalah konsep tentang terjadinya halilintar dan kilat, jam air, serta cara membuat gelas dari garam. Ibnu Firnas juga membuat rantai rangkaian yang menunjukkan pergerakan benda-benda planet dan bintang. Selain itu, Ibnu Firnas pun menunjukkan cara bagaimana memotong batu kristal yang saat itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang Mesir.

Al-Farabi




Tulisan ahli falsafah Yunani seperti Plato dan Aristoteles mempunyai pengaruh yang besar terhadap pemikiran ahli falsafah Islam. Salah seorang ahli falsafah Islam yang terpengaruh dengan pemikiran kedua tokoh tersebut ialah Al-Farabi.
Nama sebenarnya Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibnu Uzlaq Al-Farabi. Beliau lahir pada tahun 874M/260H di Transoxia yang terletak dalam Wilayah Wasij di Turki. Ayahnya merupakan seorang anggota pejuang yang miskin tetapi semua itu tidak menghalanginya dari mendapat pendidikan di Baghdad. Beliau telah mempelajari bahasa Arab di bawah pimpinan Ali Abu Bakar Muhammad ibnu Al-Sariy.
Setelah beberapa waktu, beliau berpindah ke Damsyik sebelum meneruskan perjalanannya ke Halab. Di sana, beliau telah berkhidmat di istana Saif Al-Daulah dengan gaji empat dirham sehari. Hal ini menyebabkan dia hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.
Al-Farabi yang terdidik dengan sifat qanaah menjadikan beliau seorang yang sangat sederhana, tidak gila harta dan cinta dunia. Beliau lebih menumpukan perhatian untuk mencari ilmu daripada mendapatkan kekayaan duniawi. Sebab itulah Al-Farabi hidup dalam keadaan yang miskin sehingga beliau menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 950M (339H).
Walaupun Al-Farabi merupakan seorang yang zuhud tetapi beliau bukan seorang ahli sufi. Beliau merupakan seorang ilmuwan yang cukup terkenal pada zamannya. Dia bisa menguasai berbagai bahasa.
Selain itu, dia juga merupakan seorang pemusik yang handal. Lagu yang dihasilkan meninggalkan kesan secara langsung kepada pendengarnya. Selain mempunyai kemampuan untuk bermain musik, beliau juga telah menciptakan satu jenis alat musik yang diberi nama gambus.
Kemampuan Al-Farabi bukan sekadar itu, malah beliau juga memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam dalam bidang kedokteran, sains, matematika, dan sejarah. Namun, keterampilannya sebagai seorang ilmuwan yang terulung lebih dalam di bidang falsafah. Bahkan kehebatannya dalam bidang ini mengatasi ahli falsafah Islam yang lain seperti Al-Kindi dan Ibnu Rusyd.
Dalam membicarakan teori politiknya, beliau berpendapat bahwa akal dan wahyu adalah satu hakikat yang padu. Usaha untuk memisahkan kedua hal tersebut akan melahirkan sebuah negara yang pincang serta masyarakat yang kacau-bilau. Oleh karena itu, akal dan wahyu perlu dijadikan sebagai dasar kepada pembinaan sebuah negara yang kuat, stabil, dan makmur.
Al-Farabi banyak mengaji mengenai falsafah dan teori Socrates, Plato, dan Aristoteles. Maka tidak heran, Al-Farabi dikenali sebagai orang yang paling memahami falsafah Aristoteles. Dia juga merupakan seorang pertama yang menulis mengenai ilmu logika Yunani secara teratur dalam bahasa Arab.
Meskipun pemikiran falsafahnya banyak dipengaruhi oleh falsafah Yunani tetapi beliau menentang pendapat Plato yang menganjurkan konsep pemisahan dalam kehidupan manusia. Menurut Al-Farabi, seorang ahli falsafah tidak seharusnya memisahkan dirinya dari sains dan politlk. Sebaliknya perlu menguasai kedua untuk menjadi seorang ahli falsafah yang sempurna. Karena keduanya merupakan komponen yang saling lengkap melengkapi.
Pandangan falsafahnya yang kritikal telah meletakkannya setingkat dengan ahli falsafah Yunani yang lain. Dalam kalangan ahli falsafah Islam, beliau juga dikenali sebagai Aristoteles kedua. Bagi Al-Farabi, ilmu adalah segalanya dan para ilmuwan harus diletakkan pada kedudukan yang tertinggi dalam pemerintahan sebuah negara.
Pandangan Al-Farabi ini sebenarnya mempunyai persamaan dengan falsafah dan ajaran Confucius yang meletakkan golongan ilmuwan pada tingkat yang tertinggi di dalam sistem sosial sebuah negara.
Pemikiran dan pandangan Al-Farabi mengenai falsafah politik terkandung dalam karyanya yang berjudul  Madinah Al-Fadhilah . Perbicaraan mengenai ilmu falsafah zaman Yunani dan falsafah Plato serta Aristoteles telah disentuhnya dalam karya  Ihsa  Al-Ulum dan Kitab Al-Jam.
Terdapat dua buku tidak dapat disiapkan oleh Al-Farabi di zamannya. Buku-buku itu ialah Kunci Ilmu  yang disiapkan oleh  muridnya yang bernama Muhammad Al Khawarismi pada tahun 976M dan Fihrist Al-Ulum  yang diselesaikan oleh Ibnu Al-Nadim pada tahun 988M.
Al-Farabi juga telah menghasilkan sebuah buku yang mengandung pengajaran dan teori musik Islam, yang diberikan judul Al-Musiqa dan dianggap sebagai sebuah buku yang terpenting dalam bidang musik.
Sebagai seeorang ilmuwan yang tulen, Al-Farabi turut memperlihatkan kecenderungannya menghasilkan beberapa kajian dalam bidang kedokteran. Walaupun kajiannya dalam bidang ini tidak menjadikannya masyhur tetapi pandangannya telah memberikan sumbangan yang cukup bermakna terhadap perkembangan ilmu kedokteran pada zamannya.
Salah satu pandangannya yang menarik ialah mengenai  jantung adalah lebih penting dibanding otak dalam kehidupan manusia. Ini disebabkan jantung memberikan kehangatan kepada tubuh sedangkan otak hanya menyelaraskan kehangatan itu menurut keperluan anggota tubuh badan.
Sesungguhnya Al-Farabi merupakan seorang tokoh falsafah yang serba bisa. Banyak dari pemikirannya masih relevan dengan perkembangan dan kehidupan manusia sekarang. Sementara itu, pemikirannya mengenai politik dan negara banyak dikaji serta dibicarakan di tingkat universitas.

Ibnu Haitham

Islam sering kali diberikan gambaran sebagai agama yang  mundur lagi memundurkan. Islam juga dikatakan tidak menggalakkan umatnya menuntut dan menguasai berbagai  ilmu. Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi bertentangan dengan hakikat sejarah yang sebenarnya. Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan berbagai golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusastraan, kemasyarakatan, agama, dan sebagainya.
Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekadar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, malah dalam waktu yang singkat  mereka dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara serentak. Walaupun tokoh-tokoh itu lebih dikenali dalam bidang sains tetapi mereka juga memiliki kemahiran yang tinggi dalam bidang agama, falsafah, dan lain sebagainya. Salah seorang dari mereka ialah Ibnu Haitham atau nama sebenarnya Abu All Muhammad Al-Hassan ibnu Al-Haitham. Dalam kalangan cerdik pandai di Barat, beliau dikenali dengan nama Alhazen. Ibnu Haitham dilahirkan di Basrah pada tahun 354 H/965 M.
Beliau mengawali pendidikannya di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di bandar kelahirannya. Setelah beberapa lama berkhidmat dengan pihak pemerintah di sana, beliau mengambil keputusan merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan beliau telah melanjutkan pengajian dan menumpukan perhatian pada penulisan. Kecintaannya kepada ilmu telah membawanya berhijrah ke Mesir.
Beliau mengambil kesempatan ketika berada di Mesir untuk melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai aliran dan saluran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan ilmu falak. Hal itu menjadikan  beliau seorang yang amat mahir dalam bidang sains, ilmu falak, matematika, geometri, dan falsafah.
Tulisannya mengenai mata, telah menjadi salah satu rujukan yang penting dalam bidang pengajian sains di Barat. Bahkan kajiannya mengenai mata telah menjadi rujukan kepada pengajian modern mengenai mata.
Ibnu Haitham merupakan ilmuwan yang gemar melakukan penyelidikan. Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ilmuwan Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler untuk menciptakan  mikroskop serta teleskop.
 Beliau merupakan orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai  data penting mengenai cahaya. Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, antaranya ialah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.
Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis sembilan belas derajat di ufuk timur. Warna merah pada senja pula akan hilang apabila matahari berada di garis sembilan belas derajat ufuk Barat. Dalam kajiannya, beliau juga telah berhasil menemukan dan menjelaskan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.
Ibnu Haitham juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ menghasilkan teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para ilmuwan Itali untuk menghasilkan kaca pembesar yang pertama di dunia.
Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan yang bernama Trricella mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian. Ibnu Haitham juga telah menemukan perwujudan tarikan gravitasi sebelum Issaac Newton mengetahuinya.
Selain itu, teori Ibnu Haitham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan Barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori beliau telah membawa kepada penemuan filem yang kemudian disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita tonton pada masa kini.
Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logika, metafisika, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Beliau turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu.
Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh dipisahkan dari matematika, sains, dan ketuhanan. Ketiga-tiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang perlu menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami kemerosotan.
Karya-karya Ibnu Haitham:
1. Al'Jami' fi Usul al'Hisab tentang teori-teori ilmu metametika dan analisaannya
2. Kitab Al-Tahlil wa al'Tarkib mengenai ilmu geometri
3. Kitab Tahlil Al-masa’il Al-Adadiyah tentang algebra;
4. Maqalah fi Istikhraj Simat Al-Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat
5. Risalah fi Sina'at Al-Syi'r mengenai teknik penulisan puisi.
Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan falsafah amat banyak. Kerana itulah Ibnu Haitham terkenal sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan.
Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan hingga sekarang. Walau bagaimanapun sebahagian karyanya lagi telah dicuri dan diceduk oleh ilmuwan Barat tanpa memberikan penghargaan yang sewajarnya kepada beliau. Semestinya ilmuwan Barat patut berterima kasih kepada Ibnu Haitham dan para sarjana Islam karena tanpa mereka mungkinan dunia Eropa masih diselubungi dengan kegelapan.
Kajian Ibnu Haitham telah menyediakan landasan kepada perkembangan ilmu sains dan pada masa yang sama tulisannya mengenai falsafah telah membuktikan keaslian pemikiran sarjana Islam dalam bidang ilmu tersebut yang tidak lagi dibelenggu oleh pemikiran falsafah Yunani.

Al-Biruni

Pada zaman awal kedatangan Islam, masyarakat Islam tidak begitu tertarik kepada ilmu falsafah. Walau bagaimanapun menjelang abad ke-3, para sarjana Islam mulai memberikan perhatian kepada persoalan dan pemikiran yang berkaitan dengan falsafah.
Falsafah yang dipelopori oleh para ilmuwan Islam, berlandaskan ajaran Islam dan kalimah syahadah bertujuan untuk meningkatkan keyakinan dan ketakwaan umat Islam. Berbeda dengan falsafah Yunani yang lebih tertumpu kepada pencarian kebenaran berlandaskan pemikiran dan logika semata sehingga menimbulkan kekeliruan
Aliran falsafah pada zaman Islam tidak sekadar membataskan perbicaraan kepada persoalan yang berkaitan dengan metafisika dan kejadian alam. Tetapi juga meliputi persoalan yang berkaitan dengan nilai-nilai akhlak, masyarakat, dan kemanusiaan. Walaupun ahli falsafah pernah dicap oleh Imam Al-Ghazali sebagai golongan yang sesat lagi menyesatkan, tetapi perkembangan ilmu falsafah itu telah berhasil membantu menyelesaikan berbagai persoalan keagamaan, ekonomi, politik, sosial, budaya, dan bidang-bidang lain.
Umat Islam digalakkan mencari dan menimba ilmu sampai ke negara China. Dorongan yang diberikan oleh Islam itu telah memberikan semacam motivasi kepada para sarjana Islam untuk terus menggali dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Salah seorang ilmuwan tersebut ialah Al Biruni atau nama lengkapnya Abu Al-Raihan Muhammad ibnu Ahmad Al-Biruni. Beliau dilahirkan pada tahun 362 H/973 M di Birun, ibu kota  negara Khawarizm atau lebih dikenal sebagai Turkistan. Gurunya yang pertama ialah Abu Nasir Mansur ibnu Alt ibnu Iraqin yang juga merupakan seorang pakar ilmu matematika dan alam.
Minat dan kecenderungannya untuk mempelajari serta meluaskan dimensi ilmu pengetahuannya telah mendorong Al-Biruni merantau hingga ke negara India. Tetapi semasa berada di India, Al-Biruni telah ditawan oleh Sultan Mahmud Al-Ghaznawi. Setelah Sultan Mahmud Al-Ghaznawi menyadari keilmuwannya maka beliau ditugaskan di istana sebagai salah seorang ulama. Kesempatan itu digunakan sepenuhnya oleh Al-Biruni untuk mempelajari bahasa Sangsekerta dan bahasa lain di India.
Di sana beliau mengambil kesempatan untuk mengenali agama Hindu dan falsafah India. Hasilnya beliau telah menulis beberapa buah buku yang mempunyai hubungan dengan masyarakat India dan kebudayaan Hindu.
Tembok penjara tidak menjadi penghalang kepada Al-Biruni untuk terus menuntut dan menghasilkan karya-karya besar dalam berbagai bidang. Sumbangannya kepada ilmu dan peradaban India sangat besar. Sumbangannya yang paling penting ialah dalam penciptaan kaedah penggunaan angka-angka India dan kajiannya mencari ukuran bumi menggunakan perkiraan matematika. Beliau juga telah menghasilkan satu peta yang berisi kedudukan ibu kota-ibu kota negara di dunia.
Sewaktu berada dalam tawanan itu, Al-Biruni juga menggunakan seluruh ruang dan peluang yang ada untuk menjalin hubungan antara para ilmuwan sekolah tinggi Baghdad dan para sarjana Islam India yang tinggal dalam istana Mahmud al Ghaznawi.
Selepas dibebaskan, beliau telah menulis sebuah buku yang berjudul Kitab Tahdid Al-Nihayat Al- Amakin Litashih Al-Masafat Al-Masakin. Di samping itu, beliau turut mendirikan sebuah pusat kajian astronomi mengenai sistem solar yang telah membantu perkembangan pengajian ilmu falak pada tahun-tahun yang mendatang. Kajiannya dalam bidang sains, matematika, dan geometrika telah menyelesaikan banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan sebelum ini.
Penguasaannya terhadap berbagai ilmu pengetahuan dan bidang telah menyebabkan beliau digelar sebagai Ustaz fil Ulum atau guru segala ilmu. Tulisannya tentang sejarah Islam telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Chronology of Ancient Nation. Banyak lagi buku tulisan Al-Biruni diterbitkan di Eropa dan tersimpan dengan baik di Museum Escorial, Sepanyol. Dalam sepanjang hidupnya.
Al-Biruni telah menghasilkan lebih 150 buah buku. Antara buku itu ialah Al-Jamahir fi Al-Jawahir yakni mengenai batu-batu permata; Al-Athar Al-Baqiah berkaitan dengan peninggalan sejarah dan Al-Saidalah fi Al-Tibb, tentang obat-obatan. Karya ini adalah karyanya yang terakhir sebelum meninggal dunia pada 1048M.
Al-Biruni bukan saja dapat menguasai bahasa Sangsekerta dengan baik tetapi juga bahasa-bahasa Ibrani dan Syria. Beliau yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang falsafah Yunani menjadikannya seorang sarjana agung yang pernah dilahirkan oleh dunia Islam. Al-Biruni berhasil membuktikan bahwa gandengan falsafah dan ilmu pengetahuan telah menjadikan agama terus hidup subur dan berkembang serta membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh umat.
Pemikiran falsafahnya tidak semata-mata bersandarkan kepada imajinasi dan permainan logika tetapi berdasarkan kepada kajian yang dilakukannya secara empirikal. Kepakarannya dalam ilmu Islam tidak tidak dapat di ragukan lagi kerana dalam umur yang masih muda beliau telah menghasilkan sebuah karya besar yang berjudul Kitabul Asar Al-Baqiya Anil Quran Al-Khaliya.
Al-Biruni telah membuktikan bahwa golongan ahli falsafah bukan merupakan golongan yang sesat. Sebaliknya mereka merupakan golongan ilmuwan yang perlu diberi penghargaan. Peranan dan kedudukan mereka sangat besar dalam peradaban manusia.

Ibnu Sina




Ibnu Sina merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter Islam. Sumbangannya dalam bidang kedokteran bukan saja diakui oleh dunia Islam tetapi juga oleh para sarjana Barat. Nama lengkap Ibnu Sina ialah Abu Ali Al-Hussian Ibnu Abdullah. Tetapi di Barat, beliau lebih dikenali sebagai Avicenna.
Ibnu Sina dilahirkan di Persia, sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan pada tahun 370H/980 M. Pengajian peringkat awalnya bermula di Bukhara dalam bidang bahasa dan sastra. Selain itu, beliau turut mempelajari ilmu-ilmu lain seperti geometri, logika, matematika, sains, fiqih, dan kedokteran.
Walaupun Ibnu Sina menguasai berbagai ilmu pengetahuan termasuk falsafah tetapi beliau lebih menonjol dalam bidang kedokteran . Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan Modern”. George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu”. Bukunya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).
Ibnu Sina mulanya menjadi terkenal setelah berhasil menyembuhkan penyakit Putra Nub Ibnu Nas Al-Samani yang gagal diobati oleh dokter yang lain.
Bukunya Al Qanun fil Tabib telah diterbitkan di Roma pada tahun 1593 sebelum dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Precepts of Medicine. Dalam jangka waktu tidak sampai 100 tahun, buku itu telah dicetak ke dalam 15 bahasa. Pada abad ke-17, buku tersebut telah dijadikan sebagai bahan rujukan diuniversitas-universitas Itali dan Perancis. Bahkan hingga abad ke-19, bukunya masih dicetak ulang dan digunakan oleh para pelajar kedokteran.
Ibnu Sina juga telah menghasilkan sebuah buku yang diberi judul Remedies for The Heart . Dalam buku itu, beliau telah menceritakan dan menguraikan 760 jenis penyakit bersama dengan cara untuk mengobatinya. Hasil tulisan Ibnu Sina sebenarnya tidak terbatas kepada ilmu kedokteran  saja. Tetapi turut merangkum bidang dan ilmu lain seperti metafisika, musik, astronomi, syair, prosa, dan agama.
Penguasaannya dalam berbagai bidang ilmu itu telah menjadikannya seorang tokoh sarjana yang serba bisa. Ibnu Sina juga menduduki peringkat pertama dalam bidang ilmu logika sehingga diberi gelar guru ketiga. Dalam bidang penulisan, Ibnu Sina telah menghasilkan ratusan karya termasuk kumpulan risalah yang berisi hasil sastra kreatif.
Hal yang lebih menakjubkan pada Ibnu Sina ialah beliau juga merupakan seorang ahli falsafah yang terkenal. Beliau pernah menulis sebuah buku berjudul An-Najah yang membicarakan persoalan falsafah. Pemikiran falsafah Ibnu Sina banyak dipengaruhi oleh aliran falsafah Al-Farabi yang telah menghidupkan pemikiran Aristoteles. Oleh sebab itu, pandangan kedokteran Ibnu Sina turut dipengaruhi oleh asas dan teori perubatan Yunani khususnya Hippocrates.
Kedokteran Yunani berasaskan teori empat unsur yang dinamakan humours yaitu darah, lendir,  empedu kuning (yellow bile), dan empedu hitam (black bile). Menurut teori ini, kesehatan seseorang mempunyai hubungan dengan campuran keempat unsur tersebut. Keempat  unsur itu harus berada pada kadar yang seimbang dan apabila keseimbangan ini diganggu maka seseorang akan mendapat penyakit.
Setiap individu dikatakan mempunyai formula keseimbangan yang berlainan. Meskipun teori itu didapati tidak tepat tetapi telah meletakkan satu landasan kukuh kepada dunia kedokteran untuk mengenal pasti penyakit pada manusia. Ibnu Sina telah menapis teori-teori Yunani ini dan mengislamkannya.
Ibnu Sina percaya bahwa setiap tubuh manusia terdiri dari empat unsur yaitu tanah, air, api, dan angin. Keempat unsur ini memberikan sifat lembap, sejuk, panas, dan kering serta sentiasa bergantung kepada unsur lain yang terdapat dalam alam ini.
Pengaruh pemikiran Yunani bukan saja dapat dilihat dalam pandangan Ibnu Sina mengenai kesehatan, tetapi juga bidang falsafah. Ibnu Sina berpendapat bahwa matematika boleh digunakan untuk mengenal Tuhan. Pandangan semacam itu pernah dikemukakan oleh ahli falsafah Yunani seperti Pythagoras untuk menguraikan mengenai sesuatu kejadian. Bagi Pythagoras, sesuatu hal mempunyai angka-angka dan angka itu berkuasa di alam ini. Berdasarkan pandangan itu, maka Imam Al-Ghazali telah mencap faham Ibnu Sina sebagai sesat dan lebih berbahaya daripada kepercayaan Yahudi dan Nasrani.
Sebenarnya, Ibnu Sina tidak pernah menolak kekuasaan Tuhan. Dalam buku An-Najah, Ibnu Sina telah menyatakan bahwa pencipta yang dinamakan sebagai Wajib al-Wujud ialah satu. Dia tidak berbentuk dan tidak boleh disamakan dengan apapun.
Tetapi tidaklah wajib segala yang wujud itu datang dari Wajib al-Wujud sebab Dia berkehendak bukan mengikut kehendak. Walau bagaimanapun, tidak menjadi halangan bagi Wajib al-Wujud untuk melimpahkan segala yang wujud sebab kesempurnaan dan ketinggian-Nya.
Pemikiran Ibnu Sina ini telah rnencetuskan kontroversi dan telah di tetapkan sebagai satu percobaan untuk membahas zat Allah. Al-Ghazali telah menulis sebuah buku yang berjudul Tahafat Al-Falasifah (Tidak Ada Kesinambungan Dalam Pemikiran Ahli Falsafah) untuk membahas pemikiran Ibnu Sina dan al-Farabi.
Antara persoalan yang diutarakan oleh Al-Ghazali ialah penyangkalan terhadap kepercayaan dalam keabadian planet bumi, penyangkalan terhadap penafian Ibnu  Sina dan Al-Farabi mengenai pembangkitan jasad manusia dengan perasaan kebahagiaan dan kesengsaraan di surga atau neraka.
Walau apa pun pandangan yang dikemukakan, sumbangan Ibnu Sina dalam perkembangan falsafah Islam tidak mungkin dapat dinafikan. Bahkan beliau boleh dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab menyusun ilmu falsafah dan sains dalam Islam. Sesungguhnya, Ibnu Sina tidak saja unggul dalam bidang kedokteran tetapi kehebatan dalam bidang falsafah melampaui  gurunya sendiri yaitu Al-Farabi.

Al-Ghazali




Imam Al-Ghazali lebih dikenali sebagai ulama tasawuf dan akidah. Oleh sebab itu sumbangannya terhadap bidang falsafah dan ilmu pengetahuan lain tidak boleh dinafikan. Al-Ghazali merupakan seorang ahli sufi yang bergelar "hujjatui Islam”.
Abu Hamid Ibnu Muhammad Al-Tusi Al-Ghazali itulah tokoh yang dilahirkan pada tahun 450 H. Sejak kecil , beliau telah menunjukkan usaha yang luar biasa dengan menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan. Beliau bukan saja produktif dari segi menghasilkan buku dan karya tetapi merupakan seorang ahli pikir Islam yang terulung.
Cintanya terhadap ilmu pengetahuan begitu mendalam sehingga mendorongnya untuk  merantau dari tempat satu ke tempat yang lain untuk berguru dengan ulama-ulama yang hidup pada zamannya. Sewaktu berada di Baghdad, Al-Ghazali telah dilantik sebagai guru besar Universitas Baghdad.
Walaupun telah bergelar guru besar tetapi beliau masih merasakan kekurangan pada ilmu pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu, beliau beralih ke bidang tasawuf dengan merantau ke Mekkah sambil berguru dengan ahli-ahli sufi yang terkenal disana.
Selain belajar dan mengkaji, Al-Ghazali juga banyak menulis. Beliau telah menulis 300 buah buku mencakupi berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti matematika, akhlak, tafsir, ulumul Quran, falsafah, dan sebagainya. Walau bagaimanapun, sebahagian besar hasil tulisannya telah hangus dibakar oleh pemberontak Moghul yang menyerang kota Baghdad.
Antara kitab yang musnah termasuk: 40 Jilid Tafsir, Sirrul Alamain (Rahasia Dua Dunia), dan al Madhnuuna bihi ala Qhairiha (Ilmu Yang Harus Disembunyikan Dari Orang-orang Yang Bukan Ahlinya,). Cuma 84 buah buku tulisan beliau yang bisa diselamatkan seperti Al Munqiz Mim Al-Dhalal (Penyelamat Kesesatan), Tahafut al Falsafah (Penghancuran Falsafah), Mizanul Amal (Timbangan Amal), Ihya Ulumuddin (Penghidupan Pengetahuan), Mahkun Nazar (Mengenai Ilmu Logika), Miyarul Ilmu, dan Maqsadil Falsafah (Tujuan Falsafah).
Meskipun Al-Ghazali banyak menulis mengenai falsafah tetapi beliau tidak dianggap sebagai seorang ahli falsafah. Malah kebanyakan penulis menggolongkan Al-Ghazali sebagai seorang yang memerangi dan bersikap antifalsafah. Pandangan ini berdasarkan tulisan Al-Ghazali dalam buku Tahafut Falsafah yang banyak mengkritik dan mengecam falsafah. Bahkan dalam buku tersebut, Al-Ghazali menyatakan tujuan menyusun buku itu adalah untuk menghancurkan falsafah dan menggugat keyakinan orang terhadap falsafah. Namun begitu, pandangan bahwa Al-Ghazali seorang yang antifalsafah tidak disetujui oleh beberapa orang sarjana.
Walaupun tidak ada seorang pun yang boleh menafikan kecaman Al-Ghazali terhadap falsafah seperti yang ditulis dalam buku Tahafut Falsafah itu tetapi perlu diingat bahwa sikap ragu dan kritikannya terhadap falsafah merupakan sebagian proses ilmu falsafah itu sendiri. Hal ini karena tugas ahli falsafah bukan semata-mata untuk mencari kebenaran dan penyelesaian terhadap sesuatu masalah tetapi juga membantah penyelesaian yang dikemukakan terhadap permasalahan tersebut.
Kalau menyelusuri perjalanan hidup Al-Ghazali maka akan didapati bahwa beliau merupakan ilmuwan Islam pertama yang mendalami falsafah dan kemudian mengambil sikap mengkritiknya. Walaupun Al-Ghazali kurang senang dengan falsafah dan ahli falasafah tetapi dalam buku Maqasid al Falasifah, beliau telah mengemukakan kaedah falsafah untuk menguraikan persoalan yang berkaitan dengan logika.
Menurut Al-Ghazali, falsafah boleh dibagi dalam enam ilmu pengetahuan yaitu matematika, logika, fisika, metafisika, politik, dan etika. Bidang-bidang ini kadang-kadang selaras dengan agama dan kadang-kadang pula sangat berlawanan dengan agama.
Namun , agama Islam tidak menghalang umatnya dari mempelajari ilmu pengetahuan tersebut sekiranya mendatangkan kebaikan serta tidak menimbulkan kemudaratannya. Contohnya agama tidak melarang ilmu matematika karena ilmu itu merupakan hasil pembuktian pikiran yang tidak boleh dinafikan selepas ia dipahami.
Tapi bagi Al-Ghazali, ilmu tersebut boleh menimbulkan beberapa persoalan yang berat. Antaranya ialah ilmu matematika terlalu mementingkan logika sehingga akan menyebabkan timbulnya persoalan yang berkaitan dengan perkara yang tidak dapat diuraikan oleh akal pikiran. Menurut Al-Ghazali tidak salah berpegang kepada logika tetapi yang menjadi masalahnya ialah golongan falsafah yang terlalu berpegang kepada logika, hendaklah membuktikan fakta termasuk perkara yang berhubung dengan metafisika.
Oleh sebab itulah beliau menentang golongan ahli falsafah Islam yang mencoba mengungkap kejadian alam yang menggunakan pemikiran dari ahli falsafah Yunani. Beberapa orang ahli falsafah Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi jelas terpengaruh dengan pemikiran falsafah Aristoteles. Maka tidak heran ada diantara pandangan ahli falsafah itu bertentangan dengan ajaran Islam yang akan menyebabkan kesesatan dan syirik.
Terdapat tiga pemikiran falsafah metafisika yang menurut Al-Ghazali sangat bertentangan dengan Islam yaitu qadimnya alam ini, tidak mengetahui Tuhan terhadap perkara dan peristiwa yang kecil, dan pengingkaran terhadap kebangkitan manusia.
Al-Ghazali tidak menolak penggunaan akal dalam pembicaraan falsafah dan penghasilan ilmu pengetahuan yang lain. Sebaliknya beliau berpendapat bahwa ilmu kalam dan penyelidikan menggunakan pikiran akan menambahkan keyakinan pada hati orang bukan Islam terhadap kebenaran ajaran Islam. Jadi, perkembangan sesuatu ilmu pengetahuan bukan saja bersandarkan kepuasan akal pikiran tetapi juga perlu mempertimbangkan aspek perasaan dan hati nurani. Al-Ghazali menganjurkan supaya umat Islam mencari kebenaran dengan menjadikan Alquran sebagai sumber yang utama bukannya melalui proses pemikiran dan akal semata. Jadi, apa yang dilakukan oleh Al-Ghazali ialah memaparkan kesalahan dan kepalsuan bidang pengetahuan yang bertentangan  dengan agama serta bertentangan dengan pendirian umat Islam. Sekaligus menunjukkan bahwa Al-Ghazali sebenarnya merupakan seorang ahli falsafah Islam yang mencari kebenaran dengan berdasarkan Alquran dan hadis tidak sebagaimana pemikiran serta permainan logika yang lazim digunakan ahli falsafah Yunani. Perkara yang ditentang oleh Al-Ghazali bukan ahli falsafah dan pemikiran yang dibawakan oleh mereka tetapi kesalahan dan kesesatan yang dilakukan oleh golongan tersebut. Menurut Al-Ghazali ilmu falsafah harus berdasarkan Alquran.

Ibnu Bajjah




Umat Islam dipercayai telah sampai ke Sepanyol pada zaman sahabat. Kedatangan mereka telah berjaya mempengaruhi kehidupan masyarakat di sana khususnya dalam bidang yang berkaitan dengan keilmuwan.
Sepanjang pemerintahan Islam di Sepanyol yang juga dikenali sebagai Andalusia, telah lahir cendikiawan-cendekiawan dan sarjana dalam berbagai bidang. Sebahagian mereka ialah ahli sains, matematika,astronomi, falsafah, sastra, dan sebagainya.
Salah seorang mereka ialah Abu Bakar Muhammad Ibnu Yahya Al-Saigh atau lebih terkenal sebagai Ibnu Bajjah. Beliau dilahirkan di Saragossa pada tahun 1082 M. Ibnu Bajjah merupakan seorang sastrawan dan ahli bahasa yang unggul. Dalam hal ini, beliau pernah menjadi penyair bagi golongan Al-Murabbitin yang dipimpin oleh Abu Bakar Ibrahim Ibnu Tafalwit.
Selain itu, Ibnu Bajjah juga merupakan seorang ahli musik dan pemain gambus yang handal. Beliau juga seorang hafiz Alquran. Ibnu Bajjah juga terkenal sebagai salah seorang doktor teragung yang pernah dilahirkan di Andalusia.
Kemampuannya menguasai berbagai-bagai ilmu menjadikannya seorang sarjana yang teragung bahkan tiada tandingannya di Andalusia dan bahkan di dunia Islam. Jadi, sumbangannya dalam bidang keilmuwan sangat besar. Dalam bidang falsafah contohnya, Ibnu Bajjah boleh diletakkan setaraf dengan Al-Farabi dan Aristoteles.
Ibnu Bajjah pernah menulis sebuah buku yang berjudul aI-Nafs yang membicarakan persoalan yang berkaitan dengan jiwa. Pembicaraan itu banyak dipengaruhi oleh gagasan pemikiran falsafah Yunani. Oleh sebab itulah, Ibnu Bajjah banyak membuat ulasan terhadap karya dan hasil tulisan Aristoteles, Galenos, Al-Farabi, dan Al-Razi.
Ibnu Bajjah merupakan tokoh ilmuwan yang hebat. Sesuai dengan itu beliau telah diberikan kedudukan dan penghormatan yang tinggi oleh orang Murabbitin. Tetapi perasaan dengki dan cemburu telah menyebabkan beliau diracuni dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 1138 Mi dalam usia yang masih  muda.
Biarpun umur Ibnu Bajjah tidak panjang tetapi sumbangan dan pemikirannya telah meletakkan tapak yang kukuh kepada perkembangan ilmu dan falsafah di bumi Andalusia.