Pada abad ke-8, seorang Muslim Spanyol,
Abbas Ibnu Firnas, telah menemukan, membangun, dan menguji konsep
pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu Firnas inilah yang kemudian
dipelajari Roger Bacon lepas 500 tahun setelah Ibnu Firnas meletakkan
teori-teori dasar pesawat terbang.
Sekitar 200 tahun setelah Bacon atau 700
tahun pasca uji coba Ibnu Firnas, barulah konsep dan teori pesawat
terbang dikembangkan. Pada tahun 875, Ibnu Firnas membuat sebuah
prototipe atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah
bingkai kayu. Inilah catatan dokumentasi pertama yang sangat kuno
tentang pesawat terbang layang.
Salah satu dari dua versi catatan
konstruksi pesawat terbang Ibnu Firnas menyebutkan, setelah
menyelesaikan model pesawat terbang yang dibuatnya, Ibnu Firnas
mengundang masyarakat Cordoba untuk datang dan menyaksikan hasil
karyanya itu.
Warga Cordoba saat itu menyaksikan dari
dekat menara tempat Ibnu Firnas akan memperagakan temuannya. Namun
karena cara meluncur yang kurang baik, Ibnu Firnas terhempas ke tanah
bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang
sangat parah. Cederanya inilah yang memaksa Ibnu Firnas tak berdaya
untuk melakukan uji coba berikutnya.
Versi kedua catatan ini menyebutkan,
Ibnu Firnas lalai memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka
untuk mendarat. Dia pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat
layang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan dia gagal
mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.
Cedera punggung yang tak kunjung sembuh
mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek-proyek penelitian di dalam ruangan
(laboratorium). Dia pun meneliti gejala alam dan mempelajari mekanisme
terjadinya halilintar dan kilat. Ibnu Firnas berhasil mengembangkan
formula untuk membuat gelas dan kristal.
Sayang, tak lama setelah itu, tepatnya
pada tahun 888, Ibnu Firnas wafat dalam keadaan berjuang menyembuhkan
cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan uji coba
pesawat layang buatannya.
Sekilas tentang Ibnu firnas Abbas Ibnu
Firnas atau Abbas Qasim Ibnu Firnas (dikenal dengan nama Latin Armen
Firman) dilahirkan di Ronda, Spanyol pada tahun 810 M. Dia dikenal
sebagai orang Barbar yang ahli dalam bidang kimia dan memiliki karakter
yang humanis, kreatif, dan kerap menciptakan barang- barang berteknologi
baru saat itu.
Pria yang suka bermain musik dan puisi
ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Spanyol (dulu
bernama Andalusia). Masa kehidupan Ibnu Firnas berbarengan dengan masa
kehidupan musikus Irak, Ziryab.
Pada tahun 852, di bawah pemerintahan
khalifah baru, Abdul Rahman II, Ibnu Firnas membuat pengumuman yang
menghebohkan warga Cordoba saat itu. Dia ingin melakukan uji coba
terbang dari menara Masjid Mezquita dengan menggunakan sayap atau jubah
tanpa lengan yang dipasangkan di tubuhnya.
Dia berhasil mendarat walaupun dengan
cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian
dikenal dengan parasut pertama di dunia. Menara Masjid Mezquita di
Cordoba menjadi saksi bisu perwujudan konsep pertama pesawat terbang
yang lahir dari pemikiran seorang Muslim.
Keberhasilannya itu tidak lantas membuat
Ibnu Firnas berdiam diri. Dia kembali melakukan serangkaian penelitian
dan pengembangan konsep serta teori dari gejala-gejala alam yang
diperhatikannya.
Karya-karya baru pun bermunculan dari
buah pemikiran Ibnu Firnas. mulai dari puisi, kimia, sampai astronomi,
semuanya dipelajarinya dengan satu tujuan, yaitu mampu memberikan
manfaat bagi umat manusia.
Di antara hasil karyanya yang monumental
adalah konsep tentang terjadinya halilintar dan kilat, jam air, serta
cara membuat gelas dari garam. Ibnu Firnas juga membuat rantai rangkaian
yang menunjukkan pergerakan benda-benda planet dan bintang. Selain itu,
Ibnu Firnas pun menunjukkan cara bagaimana memotong batu kristal yang
saat itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang Mesir.
|
Senin, 14 Januari 2013
Abbas Ibnu Firnas
Al-Farabi
Tulisan ahli falsafah Yunani seperti Plato dan Aristoteles mempunyai pengaruh yang besar terhadap pemikiran ahli falsafah Islam. Salah seorang ahli falsafah Islam yang terpengaruh dengan pemikiran kedua tokoh tersebut ialah Al-Farabi.
Nama sebenarnya Abu Nasr Muhammad Ibnu
Muhammad Ibnu Tarkhan Ibnu Uzlaq Al-Farabi. Beliau lahir pada tahun
874M/260H di Transoxia yang terletak dalam Wilayah Wasij di Turki.
Ayahnya merupakan seorang anggota pejuang yang miskin tetapi semua itu
tidak menghalanginya dari mendapat pendidikan di Baghdad. Beliau telah
mempelajari bahasa Arab di bawah pimpinan Ali Abu Bakar Muhammad ibnu
Al-Sariy.
Setelah beberapa waktu, beliau berpindah
ke Damsyik sebelum meneruskan perjalanannya ke Halab. Di sana, beliau
telah berkhidmat di istana Saif Al-Daulah dengan gaji empat dirham
sehari. Hal ini menyebabkan dia hidup dalam keadaan yang serba
kekurangan.
Al-Farabi yang terdidik dengan sifat
qanaah menjadikan beliau seorang yang sangat sederhana, tidak gila harta
dan cinta dunia. Beliau lebih menumpukan perhatian untuk mencari ilmu
daripada mendapatkan kekayaan duniawi. Sebab itulah Al-Farabi hidup
dalam keadaan yang miskin sehingga beliau menghembuskan nafas yang
terakhir pada tahun 950M (339H).
Walaupun Al-Farabi merupakan seorang
yang zuhud tetapi beliau bukan seorang ahli sufi. Beliau merupakan
seorang ilmuwan yang cukup terkenal pada zamannya. Dia bisa menguasai
berbagai bahasa.
Selain itu, dia juga merupakan seorang
pemusik yang handal. Lagu yang dihasilkan meninggalkan kesan secara
langsung kepada pendengarnya. Selain mempunyai kemampuan untuk bermain
musik, beliau juga telah menciptakan satu jenis alat musik yang diberi
nama gambus.
Kemampuan Al-Farabi bukan sekadar itu,
malah beliau juga memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam dalam bidang
kedokteran, sains, matematika, dan sejarah. Namun, keterampilannya
sebagai seorang ilmuwan yang terulung lebih dalam di bidang falsafah.
Bahkan kehebatannya dalam bidang ini mengatasi ahli falsafah Islam yang
lain seperti Al-Kindi dan Ibnu Rusyd.
Dalam membicarakan teori politiknya,
beliau berpendapat bahwa akal dan wahyu adalah satu hakikat yang padu.
Usaha untuk memisahkan kedua hal tersebut akan melahirkan sebuah negara
yang pincang serta masyarakat yang kacau-bilau. Oleh karena itu, akal
dan wahyu perlu dijadikan sebagai dasar kepada pembinaan sebuah negara
yang kuat, stabil, dan makmur.
Al-Farabi banyak mengaji mengenai
falsafah dan teori Socrates, Plato, dan Aristoteles. Maka tidak heran,
Al-Farabi dikenali sebagai orang yang paling memahami falsafah
Aristoteles. Dia juga merupakan seorang pertama yang menulis mengenai
ilmu logika Yunani secara teratur dalam bahasa Arab.
Meskipun pemikiran falsafahnya banyak
dipengaruhi oleh falsafah Yunani tetapi beliau menentang pendapat Plato
yang menganjurkan konsep pemisahan dalam kehidupan manusia. Menurut
Al-Farabi, seorang ahli falsafah tidak seharusnya memisahkan dirinya
dari sains dan politlk. Sebaliknya perlu menguasai kedua untuk menjadi
seorang ahli falsafah yang sempurna. Karena keduanya merupakan komponen
yang saling lengkap melengkapi.
Pandangan falsafahnya yang kritikal
telah meletakkannya setingkat dengan ahli falsafah Yunani yang lain.
Dalam kalangan ahli falsafah Islam, beliau juga dikenali sebagai
Aristoteles kedua. Bagi Al-Farabi, ilmu adalah segalanya dan para
ilmuwan harus diletakkan pada kedudukan yang tertinggi dalam
pemerintahan sebuah negara.
Pandangan Al-Farabi ini sebenarnya
mempunyai persamaan dengan falsafah dan ajaran Confucius yang meletakkan
golongan ilmuwan pada tingkat yang tertinggi di dalam sistem sosial
sebuah negara.
Pemikiran dan pandangan Al-Farabi
mengenai falsafah politik terkandung dalam karyanya yang berjudul
Madinah Al-Fadhilah . Perbicaraan mengenai ilmu falsafah zaman Yunani
dan falsafah Plato serta Aristoteles telah disentuhnya dalam karya
Ihsa Al-Ulum dan Kitab Al-Jam.
Terdapat dua buku tidak dapat disiapkan
oleh Al-Farabi di zamannya. Buku-buku itu ialah Kunci Ilmu yang
disiapkan oleh muridnya yang bernama Muhammad Al Khawarismi pada tahun
976M dan Fihrist Al-Ulum yang diselesaikan oleh Ibnu Al-Nadim pada
tahun 988M.
Al-Farabi juga telah menghasilkan sebuah
buku yang mengandung pengajaran dan teori musik Islam, yang diberikan
judul Al-Musiqa dan dianggap sebagai sebuah buku yang terpenting dalam
bidang musik.
Sebagai seeorang ilmuwan yang tulen,
Al-Farabi turut memperlihatkan kecenderungannya menghasilkan beberapa
kajian dalam bidang kedokteran. Walaupun kajiannya dalam bidang ini
tidak menjadikannya masyhur tetapi pandangannya telah memberikan
sumbangan yang cukup bermakna terhadap perkembangan ilmu kedokteran pada
zamannya.
Salah satu pandangannya yang menarik
ialah mengenai jantung adalah lebih penting dibanding otak dalam
kehidupan manusia. Ini disebabkan jantung memberikan kehangatan kepada
tubuh sedangkan otak hanya menyelaraskan kehangatan itu menurut
keperluan anggota tubuh badan.
Sesungguhnya Al-Farabi merupakan seorang
tokoh falsafah yang serba bisa. Banyak dari pemikirannya masih relevan
dengan perkembangan dan kehidupan manusia sekarang. Sementara itu,
pemikirannya mengenai politik dan negara banyak dikaji serta dibicarakan
di tingkat universitas.
Ibnu Haitham
Islam
sering kali diberikan gambaran sebagai agama yang mundur lagi
memundurkan. Islam juga dikatakan tidak menggalakkan umatnya menuntut
dan menguasai berbagai ilmu. Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu
bukan saja tidak benar tetapi bertentangan dengan hakikat sejarah yang
sebenarnya. Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah
melahirkan berbagai golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam
bidang falsafah, sains, politik, kesusastraan, kemasyarakatan, agama,
dan sebagainya.
Salah satu ciri yang dapat diperhatikan
pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekadar dapat menguasai
ilmu tersebut pada usia yang muda, malah dalam waktu yang singkat
mereka dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara serentak. Walaupun
tokoh-tokoh itu lebih dikenali dalam bidang sains tetapi mereka juga
memiliki kemahiran yang tinggi dalam bidang agama, falsafah, dan lain
sebagainya. Salah seorang dari mereka ialah Ibnu Haitham atau nama
sebenarnya Abu All Muhammad Al-Hassan ibnu Al-Haitham. Dalam kalangan
cerdik pandai di Barat, beliau dikenali dengan nama Alhazen. Ibnu
Haitham dilahirkan di Basrah pada tahun 354 H/965 M.
Beliau mengawali pendidikannya di Basrah
sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di bandar kelahirannya.
Setelah beberapa lama berkhidmat dengan pihak pemerintah di sana, beliau
mengambil keputusan merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan beliau
telah melanjutkan pengajian dan menumpukan perhatian pada penulisan.
Kecintaannya kepada ilmu telah membawanya berhijrah ke Mesir.
Beliau mengambil kesempatan ketika
berada di Mesir untuk melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai
aliran dan saluran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai
matematika dan ilmu falak. Hal itu menjadikan beliau seorang yang amat
mahir dalam bidang sains, ilmu falak, matematika, geometri, dan
falsafah.
Tulisannya mengenai mata, telah menjadi
salah satu rujukan yang penting dalam bidang pengajian sains di Barat.
Bahkan kajiannya mengenai mata telah menjadi rujukan kepada pengajian
modern mengenai mata.
Ibnu Haitham merupakan ilmuwan yang
gemar melakukan penyelidikan. Penyelidikannya mengenai cahaya telah
memberikan ilham kepada ilmuwan Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler
untuk menciptakan mikroskop serta teleskop.
Beliau merupakan orang pertama yang
menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya. Beberapa
buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris, antaranya ialah Light dan On Twilight Phenomena.
Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar
bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.
Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar
bermula apabila matahari berada di garis sembilan belas derajat di ufuk
timur. Warna merah pada senja pula akan hilang apabila matahari berada
di garis sembilan belas derajat ufuk Barat. Dalam kajiannya, beliau juga
telah berhasil menemukan dan menjelaskan kedudukan cahaya seperti bias
cahaya dan pembalikan cahaya.
Ibnu Haitham juga turut melakukan
percobaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ menghasilkan teori
lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para ilmuwan Itali untuk
menghasilkan kaca pembesar yang pertama di dunia.
Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu
Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan
yang bernama Trricella mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian. Ibnu
Haitham juga telah menemukan perwujudan tarikan gravitasi sebelum Issaac
Newton mengetahuinya.
Selain itu, teori Ibnu Haitham mengenai
jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung
secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan Barat untuk
menghasilkan wayang gambar. Teori beliau telah membawa kepada penemuan
filem yang kemudian disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton
sebagaimana yang dapat kita tonton pada masa kini.
Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak
menulis mengenai falsafah, logika, metafisika, dan persoalan yang
berkaitan dengan keagamaan. Beliau turut menulis ulasan dan ringkasan
terhadap karya-karya sarjana terdahulu.
Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh
dipisahkan dari matematika, sains, dan ketuhanan. Ketiga-tiga bidang dan
cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang perlu
menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin
meningkat, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami kemerosotan.
Karya-karya Ibnu Haitham:
1. Al'Jami' fi Usul al'Hisab tentang teori-teori ilmu metametika dan analisaannya
2. Kitab Al-Tahlil wa al'Tarkib mengenai ilmu geometri
3. Kitab Tahlil Al-masa’il Al-Adadiyah tentang algebra;
4. Maqalah fi Istikhraj Simat Al-Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat
5. Risalah fi Sina'at Al-Syi'r mengenai teknik penulisan puisi.
Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains
dan falsafah amat banyak. Kerana itulah Ibnu Haitham terkenal sebagai
seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu
pengetahuan.
Beberapa pandangan dan pendapatnya masih
relevan hingga sekarang. Walau bagaimanapun sebahagian karyanya lagi
telah dicuri dan diceduk oleh ilmuwan Barat tanpa memberikan penghargaan
yang sewajarnya kepada beliau. Semestinya ilmuwan Barat patut berterima
kasih kepada Ibnu Haitham dan para sarjana Islam karena tanpa mereka
mungkinan dunia Eropa masih diselubungi dengan kegelapan.
Kajian Ibnu Haitham telah menyediakan
landasan kepada perkembangan ilmu sains dan pada masa yang sama
tulisannya mengenai falsafah telah membuktikan keaslian pemikiran
sarjana Islam dalam bidang ilmu tersebut yang tidak lagi dibelenggu oleh
pemikiran falsafah Yunani.
Al-Biruni
Pada
zaman awal kedatangan Islam, masyarakat Islam tidak begitu tertarik
kepada ilmu falsafah. Walau bagaimanapun menjelang abad ke-3, para
sarjana Islam mulai memberikan perhatian kepada persoalan dan pemikiran
yang berkaitan dengan falsafah.
Falsafah yang dipelopori oleh para
ilmuwan Islam, berlandaskan ajaran Islam dan kalimah syahadah bertujuan
untuk meningkatkan keyakinan dan ketakwaan umat Islam. Berbeda dengan
falsafah Yunani yang lebih tertumpu kepada pencarian kebenaran
berlandaskan pemikiran dan logika semata sehingga menimbulkan kekeliruan
Aliran falsafah pada zaman Islam tidak
sekadar membataskan perbicaraan kepada persoalan yang berkaitan dengan
metafisika dan kejadian alam. Tetapi juga meliputi persoalan yang
berkaitan dengan nilai-nilai akhlak, masyarakat, dan kemanusiaan.
Walaupun ahli falsafah pernah dicap oleh Imam Al-Ghazali sebagai
golongan yang sesat lagi menyesatkan, tetapi perkembangan ilmu falsafah
itu telah berhasil membantu menyelesaikan berbagai persoalan keagamaan,
ekonomi, politik, sosial, budaya, dan bidang-bidang lain.
Umat Islam digalakkan mencari dan
menimba ilmu sampai ke negara China. Dorongan yang diberikan oleh Islam
itu telah memberikan semacam motivasi kepada para sarjana Islam untuk
terus menggali dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Salah seorang ilmuwan tersebut ialah Al
Biruni atau nama lengkapnya Abu Al-Raihan Muhammad ibnu Ahmad Al-Biruni.
Beliau dilahirkan pada tahun 362 H/973 M di Birun, ibu kota negara
Khawarizm atau lebih dikenal sebagai Turkistan. Gurunya yang pertama
ialah Abu Nasir Mansur ibnu Alt ibnu Iraqin yang juga merupakan seorang
pakar ilmu matematika dan alam.
Minat dan kecenderungannya untuk
mempelajari serta meluaskan dimensi ilmu pengetahuannya telah mendorong
Al-Biruni merantau hingga ke negara India. Tetapi semasa berada di
India, Al-Biruni telah ditawan oleh Sultan Mahmud Al-Ghaznawi. Setelah
Sultan Mahmud Al-Ghaznawi menyadari keilmuwannya maka beliau ditugaskan
di istana sebagai salah seorang ulama. Kesempatan itu digunakan
sepenuhnya oleh Al-Biruni untuk mempelajari bahasa Sangsekerta dan
bahasa lain di India.
Di sana beliau mengambil kesempatan
untuk mengenali agama Hindu dan falsafah India. Hasilnya beliau telah
menulis beberapa buah buku yang mempunyai hubungan dengan masyarakat
India dan kebudayaan Hindu.
Tembok penjara tidak menjadi penghalang
kepada Al-Biruni untuk terus menuntut dan menghasilkan karya-karya besar
dalam berbagai bidang. Sumbangannya kepada ilmu dan peradaban India
sangat besar. Sumbangannya yang paling penting ialah dalam penciptaan
kaedah penggunaan angka-angka India dan kajiannya mencari ukuran bumi
menggunakan perkiraan matematika. Beliau juga telah menghasilkan satu
peta yang berisi kedudukan ibu kota-ibu kota negara di dunia.
Sewaktu berada dalam tawanan itu,
Al-Biruni juga menggunakan seluruh ruang dan peluang yang ada untuk
menjalin hubungan antara para ilmuwan sekolah tinggi Baghdad dan para
sarjana Islam India yang tinggal dalam istana Mahmud al Ghaznawi.
Selepas dibebaskan, beliau telah menulis
sebuah buku yang berjudul Kitab Tahdid Al-Nihayat Al- Amakin Litashih
Al-Masafat Al-Masakin. Di samping itu, beliau turut mendirikan sebuah
pusat kajian astronomi mengenai sistem solar yang telah membantu
perkembangan pengajian ilmu falak pada tahun-tahun yang mendatang.
Kajiannya dalam bidang sains, matematika, dan geometrika telah
menyelesaikan banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan sebelum ini.
Penguasaannya terhadap berbagai ilmu
pengetahuan dan bidang telah menyebabkan beliau digelar sebagai Ustaz
fil Ulum atau guru segala ilmu. Tulisannya tentang sejarah Islam telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Chronology of Ancient
Nation. Banyak lagi buku tulisan Al-Biruni diterbitkan di Eropa dan
tersimpan dengan baik di Museum Escorial, Sepanyol. Dalam sepanjang
hidupnya.
Al-Biruni telah menghasilkan lebih 150
buah buku. Antara buku itu ialah Al-Jamahir fi Al-Jawahir yakni mengenai
batu-batu permata; Al-Athar Al-Baqiah berkaitan dengan peninggalan
sejarah dan Al-Saidalah fi Al-Tibb, tentang obat-obatan. Karya ini
adalah karyanya yang terakhir sebelum meninggal dunia pada 1048M.
Al-Biruni bukan saja dapat menguasai
bahasa Sangsekerta dengan baik tetapi juga bahasa-bahasa Ibrani dan
Syria. Beliau yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang falsafah
Yunani menjadikannya seorang sarjana agung yang pernah dilahirkan oleh
dunia Islam. Al-Biruni berhasil membuktikan bahwa gandengan falsafah dan
ilmu pengetahuan telah menjadikan agama terus hidup subur dan
berkembang serta membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh
umat.
Pemikiran falsafahnya tidak semata-mata
bersandarkan kepada imajinasi dan permainan logika tetapi berdasarkan
kepada kajian yang dilakukannya secara empirikal. Kepakarannya dalam
ilmu Islam tidak tidak dapat di ragukan lagi kerana dalam umur yang
masih muda beliau telah menghasilkan sebuah karya besar yang berjudul
Kitabul Asar Al-Baqiya Anil Quran Al-Khaliya.
Al-Biruni telah membuktikan bahwa
golongan ahli falsafah bukan merupakan golongan yang sesat. Sebaliknya
mereka merupakan golongan ilmuwan yang perlu diberi penghargaan. Peranan
dan kedudukan mereka sangat besar dalam peradaban manusia.
Ibnu Sina
Ibnu Sina merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter Islam. Sumbangannya dalam bidang kedokteran bukan saja diakui oleh dunia Islam tetapi juga oleh para sarjana Barat. Nama lengkap Ibnu Sina ialah Abu Ali Al-Hussian Ibnu Abdullah. Tetapi di Barat, beliau lebih dikenali sebagai Avicenna.
Ibnu Sina dilahirkan di Persia, sekarang
sudah menjadi bagian Uzbekistan pada tahun 370H/980 M. Pengajian
peringkat awalnya bermula di Bukhara dalam bidang bahasa dan sastra.
Selain itu, beliau turut mempelajari ilmu-ilmu lain seperti geometri,
logika, matematika, sains, fiqih, dan kedokteran.
Walaupun Ibnu Sina menguasai berbagai
ilmu pengetahuan termasuk falsafah tetapi beliau lebih menonjol dalam
bidang kedokteran . Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan
Modern”. George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari
Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan
waktu”. Bukunya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The
Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap:
Al-Qanun fi At Tibb).
Ibnu Sina mulanya menjadi terkenal
setelah berhasil menyembuhkan penyakit Putra Nub Ibnu Nas Al-Samani yang
gagal diobati oleh dokter yang lain.
Bukunya Al Qanun fil Tabib telah
diterbitkan di Roma pada tahun 1593 sebelum dialihbahasakan ke dalam
bahasa Inggris dengan judul Precepts of Medicine. Dalam jangka waktu
tidak sampai 100 tahun, buku itu telah dicetak ke dalam 15 bahasa. Pada
abad ke-17, buku tersebut telah dijadikan sebagai bahan rujukan
diuniversitas-universitas Itali dan Perancis. Bahkan hingga abad ke-19,
bukunya masih dicetak ulang dan digunakan oleh para pelajar kedokteran.
Ibnu Sina juga telah menghasilkan sebuah
buku yang diberi judul Remedies for The Heart . Dalam buku itu, beliau
telah menceritakan dan menguraikan 760 jenis penyakit bersama dengan
cara untuk mengobatinya. Hasil tulisan Ibnu Sina sebenarnya tidak
terbatas kepada ilmu kedokteran saja. Tetapi turut merangkum bidang dan
ilmu lain seperti metafisika, musik, astronomi, syair, prosa, dan
agama.
Penguasaannya dalam berbagai bidang ilmu
itu telah menjadikannya seorang tokoh sarjana yang serba bisa. Ibnu
Sina juga menduduki peringkat pertama dalam bidang ilmu logika sehingga
diberi gelar guru ketiga. Dalam bidang penulisan, Ibnu Sina telah
menghasilkan ratusan karya termasuk kumpulan risalah yang berisi hasil
sastra kreatif.
Hal yang lebih menakjubkan pada Ibnu
Sina ialah beliau juga merupakan seorang ahli falsafah yang terkenal.
Beliau pernah menulis sebuah buku berjudul An-Najah yang membicarakan
persoalan falsafah. Pemikiran falsafah Ibnu Sina banyak dipengaruhi oleh
aliran falsafah Al-Farabi yang telah menghidupkan pemikiran
Aristoteles. Oleh sebab itu, pandangan kedokteran Ibnu Sina turut
dipengaruhi oleh asas dan teori perubatan Yunani khususnya Hippocrates.
Kedokteran Yunani berasaskan teori empat
unsur yang dinamakan humours yaitu darah, lendir, empedu kuning
(yellow bile), dan empedu hitam (black bile). Menurut teori ini,
kesehatan seseorang mempunyai hubungan dengan campuran keempat unsur
tersebut. Keempat unsur itu harus berada pada kadar yang seimbang dan
apabila keseimbangan ini diganggu maka seseorang akan mendapat penyakit.
Setiap individu dikatakan mempunyai
formula keseimbangan yang berlainan. Meskipun teori itu didapati tidak
tepat tetapi telah meletakkan satu landasan kukuh kepada dunia
kedokteran untuk mengenal pasti penyakit pada manusia. Ibnu Sina telah
menapis teori-teori Yunani ini dan mengislamkannya.
Ibnu Sina percaya bahwa setiap tubuh
manusia terdiri dari empat unsur yaitu tanah, air, api, dan angin.
Keempat unsur ini memberikan sifat lembap, sejuk, panas, dan kering
serta sentiasa bergantung kepada unsur lain yang terdapat dalam alam
ini.
Pengaruh pemikiran Yunani bukan saja
dapat dilihat dalam pandangan Ibnu Sina mengenai kesehatan, tetapi juga
bidang falsafah. Ibnu Sina berpendapat bahwa matematika boleh digunakan
untuk mengenal Tuhan. Pandangan semacam itu pernah dikemukakan oleh ahli
falsafah Yunani seperti Pythagoras untuk menguraikan mengenai sesuatu
kejadian. Bagi Pythagoras, sesuatu hal mempunyai angka-angka dan angka
itu berkuasa di alam ini. Berdasarkan pandangan itu, maka Imam
Al-Ghazali telah mencap faham Ibnu Sina sebagai sesat dan lebih
berbahaya daripada kepercayaan Yahudi dan Nasrani.
Sebenarnya, Ibnu Sina tidak pernah
menolak kekuasaan Tuhan. Dalam buku An-Najah, Ibnu Sina telah menyatakan
bahwa pencipta yang dinamakan sebagai Wajib al-Wujud ialah satu. Dia
tidak berbentuk dan tidak boleh disamakan dengan apapun.
Tetapi tidaklah wajib segala yang wujud
itu datang dari Wajib al-Wujud sebab Dia berkehendak bukan mengikut
kehendak. Walau bagaimanapun, tidak menjadi halangan bagi Wajib al-Wujud
untuk melimpahkan segala yang wujud sebab kesempurnaan dan
ketinggian-Nya.
Pemikiran Ibnu Sina ini telah
rnencetuskan kontroversi dan telah di tetapkan sebagai satu percobaan
untuk membahas zat Allah. Al-Ghazali telah menulis sebuah buku yang
berjudul Tahafat Al-Falasifah (Tidak Ada Kesinambungan Dalam Pemikiran
Ahli Falsafah) untuk membahas pemikiran Ibnu Sina dan al-Farabi.
Antara persoalan yang diutarakan oleh
Al-Ghazali ialah penyangkalan terhadap kepercayaan dalam keabadian
planet bumi, penyangkalan terhadap penafian Ibnu Sina dan Al-Farabi
mengenai pembangkitan jasad manusia dengan perasaan kebahagiaan dan
kesengsaraan di surga atau neraka.
Walau apa pun pandangan yang
dikemukakan, sumbangan Ibnu Sina dalam perkembangan falsafah Islam tidak
mungkin dapat dinafikan. Bahkan beliau boleh dianggap sebagai orang
yang bertanggung jawab menyusun ilmu falsafah dan sains dalam Islam.
Sesungguhnya, Ibnu Sina tidak saja unggul dalam bidang kedokteran tetapi
kehebatan dalam bidang falsafah melampaui gurunya sendiri yaitu
Al-Farabi.
Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali lebih dikenali sebagai
ulama tasawuf dan akidah. Oleh sebab itu sumbangannya terhadap bidang
falsafah dan ilmu pengetahuan lain tidak boleh dinafikan. Al-Ghazali
merupakan seorang ahli sufi yang bergelar "hujjatui Islam”.
Abu Hamid Ibnu Muhammad Al-Tusi
Al-Ghazali itulah tokoh yang dilahirkan pada tahun 450 H. Sejak kecil ,
beliau telah menunjukkan usaha yang luar biasa dengan menguasai berbagai
cabang ilmu pengetahuan. Beliau bukan saja produktif dari segi
menghasilkan buku dan karya tetapi merupakan seorang ahli pikir Islam
yang terulung.
Cintanya terhadap ilmu pengetahuan
begitu mendalam sehingga mendorongnya untuk merantau dari tempat satu
ke tempat yang lain untuk berguru dengan ulama-ulama yang hidup pada
zamannya. Sewaktu berada di Baghdad, Al-Ghazali telah dilantik sebagai
guru besar Universitas Baghdad.
Walaupun telah bergelar guru besar
tetapi beliau masih merasakan kekurangan pada ilmu pengetahuan yang
dimiliki. Oleh karena itu, beliau beralih ke bidang tasawuf dengan
merantau ke Mekkah sambil berguru dengan ahli-ahli sufi yang terkenal
disana.
Selain belajar dan mengkaji, Al-Ghazali
juga banyak menulis. Beliau telah menulis 300 buah buku mencakupi
berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti matematika, akhlak, tafsir,
ulumul Quran, falsafah, dan sebagainya. Walau bagaimanapun, sebahagian
besar hasil tulisannya telah hangus dibakar oleh pemberontak Moghul yang
menyerang kota Baghdad.
Antara kitab yang musnah termasuk: 40
Jilid Tafsir, Sirrul Alamain (Rahasia Dua Dunia), dan al Madhnuuna bihi
ala Qhairiha (Ilmu Yang Harus Disembunyikan Dari Orang-orang Yang Bukan
Ahlinya,). Cuma 84 buah buku tulisan beliau yang bisa diselamatkan
seperti Al Munqiz Mim Al-Dhalal (Penyelamat Kesesatan), Tahafut al
Falsafah (Penghancuran Falsafah), Mizanul Amal (Timbangan Amal), Ihya
Ulumuddin (Penghidupan Pengetahuan), Mahkun Nazar (Mengenai Ilmu
Logika), Miyarul Ilmu, dan Maqsadil Falsafah (Tujuan Falsafah).
Meskipun Al-Ghazali banyak menulis
mengenai falsafah tetapi beliau tidak dianggap sebagai seorang ahli
falsafah. Malah kebanyakan penulis menggolongkan Al-Ghazali sebagai
seorang yang memerangi dan bersikap antifalsafah. Pandangan ini
berdasarkan tulisan Al-Ghazali dalam buku Tahafut Falsafah yang banyak
mengkritik dan mengecam falsafah. Bahkan dalam buku tersebut, Al-Ghazali
menyatakan tujuan menyusun buku itu adalah untuk menghancurkan falsafah
dan menggugat keyakinan orang terhadap falsafah. Namun begitu,
pandangan bahwa Al-Ghazali seorang yang antifalsafah tidak disetujui
oleh beberapa orang sarjana.
Walaupun tidak ada seorang pun yang
boleh menafikan kecaman Al-Ghazali terhadap falsafah seperti yang
ditulis dalam buku Tahafut Falsafah itu tetapi perlu diingat bahwa sikap
ragu dan kritikannya terhadap falsafah merupakan sebagian proses ilmu
falsafah itu sendiri. Hal ini karena tugas ahli falsafah bukan
semata-mata untuk mencari kebenaran dan penyelesaian terhadap sesuatu
masalah tetapi juga membantah penyelesaian yang dikemukakan terhadap
permasalahan tersebut.
Kalau menyelusuri perjalanan hidup
Al-Ghazali maka akan didapati bahwa beliau merupakan ilmuwan Islam
pertama yang mendalami falsafah dan kemudian mengambil sikap
mengkritiknya. Walaupun Al-Ghazali kurang senang dengan falsafah dan
ahli falasafah tetapi dalam buku Maqasid al Falasifah, beliau telah
mengemukakan kaedah falsafah untuk menguraikan persoalan yang berkaitan
dengan logika.
Menurut Al-Ghazali, falsafah boleh
dibagi dalam enam ilmu pengetahuan yaitu matematika, logika, fisika,
metafisika, politik, dan etika. Bidang-bidang ini kadang-kadang selaras
dengan agama dan kadang-kadang pula sangat berlawanan dengan agama.
Namun , agama Islam tidak menghalang
umatnya dari mempelajari ilmu pengetahuan tersebut sekiranya
mendatangkan kebaikan serta tidak menimbulkan kemudaratannya. Contohnya
agama tidak melarang ilmu matematika karena ilmu itu merupakan hasil
pembuktian pikiran yang tidak boleh dinafikan selepas ia dipahami.
Tapi bagi Al-Ghazali, ilmu tersebut
boleh menimbulkan beberapa persoalan yang berat. Antaranya ialah ilmu
matematika terlalu mementingkan logika sehingga akan menyebabkan
timbulnya persoalan yang berkaitan dengan perkara yang tidak dapat
diuraikan oleh akal pikiran. Menurut Al-Ghazali tidak salah berpegang
kepada logika tetapi yang menjadi masalahnya ialah golongan falsafah
yang terlalu berpegang kepada logika, hendaklah membuktikan fakta
termasuk perkara yang berhubung dengan metafisika.
Oleh sebab itulah beliau menentang
golongan ahli falsafah Islam yang mencoba mengungkap kejadian alam yang
menggunakan pemikiran dari ahli falsafah Yunani. Beberapa orang ahli
falsafah Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi jelas terpengaruh dengan
pemikiran falsafah Aristoteles. Maka tidak heran ada diantara pandangan
ahli falsafah itu bertentangan dengan ajaran Islam yang akan menyebabkan
kesesatan dan syirik.
Terdapat tiga pemikiran falsafah
metafisika yang menurut Al-Ghazali sangat bertentangan dengan Islam
yaitu qadimnya alam ini, tidak mengetahui Tuhan terhadap perkara dan
peristiwa yang kecil, dan pengingkaran terhadap kebangkitan manusia.
Al-Ghazali tidak menolak penggunaan akal
dalam pembicaraan falsafah dan penghasilan ilmu pengetahuan yang lain.
Sebaliknya beliau berpendapat bahwa ilmu kalam dan penyelidikan
menggunakan pikiran akan menambahkan keyakinan pada hati orang bukan
Islam terhadap kebenaran ajaran Islam. Jadi, perkembangan sesuatu ilmu
pengetahuan bukan saja bersandarkan kepuasan akal pikiran tetapi juga
perlu mempertimbangkan aspek perasaan dan hati nurani. Al-Ghazali
menganjurkan supaya umat Islam mencari kebenaran dengan menjadikan
Alquran sebagai sumber yang utama bukannya melalui proses pemikiran dan
akal semata. Jadi, apa yang dilakukan oleh Al-Ghazali ialah memaparkan
kesalahan dan kepalsuan bidang pengetahuan yang bertentangan dengan
agama serta bertentangan dengan pendirian umat Islam. Sekaligus
menunjukkan bahwa Al-Ghazali sebenarnya merupakan seorang ahli falsafah
Islam yang mencari kebenaran dengan berdasarkan Alquran dan hadis tidak
sebagaimana pemikiran serta permainan logika yang lazim digunakan ahli
falsafah Yunani. Perkara yang ditentang oleh Al-Ghazali bukan ahli
falsafah dan pemikiran yang dibawakan oleh mereka tetapi kesalahan dan
kesesatan yang dilakukan oleh golongan tersebut. Menurut Al-Ghazali ilmu
falsafah harus berdasarkan Alquran.
Ibnu Bajjah
Umat Islam dipercayai telah sampai ke
Sepanyol pada zaman sahabat. Kedatangan mereka telah berjaya
mempengaruhi kehidupan masyarakat di sana khususnya dalam bidang yang
berkaitan dengan keilmuwan.
Sepanjang pemerintahan Islam di Sepanyol
yang juga dikenali sebagai Andalusia, telah lahir
cendikiawan-cendekiawan dan sarjana dalam berbagai bidang. Sebahagian
mereka ialah ahli sains, matematika,astronomi, falsafah, sastra, dan
sebagainya.
Salah seorang mereka ialah Abu Bakar
Muhammad Ibnu Yahya Al-Saigh atau lebih terkenal sebagai Ibnu Bajjah.
Beliau dilahirkan di Saragossa pada tahun 1082 M. Ibnu Bajjah merupakan
seorang sastrawan dan ahli bahasa yang unggul. Dalam hal ini, beliau
pernah menjadi penyair bagi golongan Al-Murabbitin yang dipimpin oleh
Abu Bakar Ibrahim Ibnu Tafalwit.
Selain itu, Ibnu Bajjah juga merupakan
seorang ahli musik dan pemain gambus yang handal. Beliau juga seorang
hafiz Alquran. Ibnu Bajjah juga terkenal sebagai salah seorang doktor
teragung yang pernah dilahirkan di Andalusia.
Kemampuannya menguasai berbagai-bagai
ilmu menjadikannya seorang sarjana yang teragung bahkan tiada
tandingannya di Andalusia dan bahkan di dunia Islam. Jadi, sumbangannya
dalam bidang keilmuwan sangat besar. Dalam bidang falsafah contohnya,
Ibnu Bajjah boleh diletakkan setaraf dengan Al-Farabi dan Aristoteles.
Ibnu Bajjah pernah menulis sebuah buku
yang berjudul aI-Nafs yang membicarakan persoalan yang berkaitan dengan
jiwa. Pembicaraan itu banyak dipengaruhi oleh gagasan pemikiran falsafah
Yunani. Oleh sebab itulah, Ibnu Bajjah banyak membuat ulasan terhadap
karya dan hasil tulisan Aristoteles, Galenos, Al-Farabi, dan Al-Razi.
Ibnu Bajjah merupakan tokoh ilmuwan yang
hebat. Sesuai dengan itu beliau telah diberikan kedudukan dan
penghormatan yang tinggi oleh orang Murabbitin. Tetapi perasaan dengki
dan cemburu telah menyebabkan beliau diracuni dan akhirnya meninggal
dunia pada tahun 1138 Mi dalam usia yang masih muda.
Biarpun umur Ibnu Bajjah tidak panjang
tetapi sumbangan dan pemikirannya telah meletakkan tapak yang kukuh
kepada perkembangan ilmu dan falsafah di bumi Andalusia.
Langganan:
Postingan (Atom)