Senin, 14 Januari 2013

Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd atau nama lengkapnya Abu Walid Muhammad Ibnu Ahmad lahir di Kordova pada tahun 1126. Beliau ahli falsafah yang paling agung yang pernah dilahirkan dalam sejarah Islam. Pengaruhnya bukan saja berkembang luas didunia Islam, tetapi juga di kalangan masyarakat di Eropa. Di Barat, beliau dikenal sebagai Averroes.
Keturunannya terdiri dari golongan yang berilmu dan ternama. Orang tuanya merupakan kadi di Kordova. Oleh itu, beliau telah disarankan untuk berguru dengan Ibnu Zuhr yang kemudiannya menjadi rekan karibnya.
Ibnu Rusyd mempelajari ilmu fiqih dari rekannya yang juga merupakan tokoh yang terkenal di Spanyol yaitu Ibnu Zuhr yang pernah bertugas sebagai doktor di istana di Andalusia.
Sebelum meninggal dunia, beliau telah menghasilkan bukunya yang terkenal Al Taysir. Buku itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Inggris dengan judul Faclititation of Treatment.
Selain menjalin hubungan yang akrab dengan Ibnu Zuhr, Ibnu Rusyd juga mempunyai hubungan yang baik dengan kerajaan Islam Muwahidin. Ibnu Rusyd dilantik sebagai hakim di Sevilla pada tahun 1169. Dua tahun kemudian, beliau dilantik menjadi hakim di Kordova.
Selepas beberapa waktu menjadi hakim, beliau dilantik sebagai doktor istana pada tahun 1182 atas dasar saran Ibnu Tufail. Banyak yang merasa cemburu dengan kedudukan Ibnu Rusyd. Karena desakan dan tekanan pihak tertentu, beliau dibuang ke daerah Alaisano.
Setelah selesai menjalani hukuman pembuangannya, beliau pulang kembali ke Kardova. Kehadirannya di Kardova bukan saja tidak diterima, tetapi beliau telah disisihkan oleh masyarakat serta menerima berbagai penghinaan dari masyarakatnya.
Pada akhir usianya, kedudukan Ibnu Rusyd dipulihkan kembali ketika Khalifah Al-Mansur Al-Muwahidi menyadari kesalahan  yang dilakukannya. Namun, segala penghormatan yang diberikan kepadanya tidak sempat dirasakan oleh Ibnu Rusyid karena beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1198.
Kematiannya merupakan kehilangan yang cukup besar bagi kerajaan dan umat Islam di Spanyol. Beliau tidak meninggalkan satupun harta benda melainkan ilmu dan tulisan dalam berbagai bidang seperti falsafah,  ilmu kalam, ilmu falak, fiqh, musik, astronomi, tata bahasa, dan nahu.
Antara karya besar yang pernah dihasilkan oleh Ibnu Rusyd termasuk Kulliyah fit-Thibb yang terdiri dari 16 jilid, Mabadil   Falsafah (Pengantar Ilmu Falsafah) dan Tafsir Urjuza
Karya tulisan tersebut menunjukkan betapa penguasaan Ibnu Rusyd dalam berbagai bidang dan cabang ilmu begitu ketara sekali sehingga usaha untuk menerjemahkan tulisan beliau telah dilakukan ke dalam bahasa lain. Buku Kulliyah fit-Thibb telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1255 oleh Bonacosa, orang Yahudi.
Kemudian buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul General Rules of Medicine. Hasil pemikiran yang dimuat dalam tulisannya, terutama dalam bidang falsafah, telah memengaruhi ahli falsafah Barat. Dua orang ahli falsafah Eropa, yaitu Voltaire dan Rousseau dikatakan bukan sekadar terpengaruh oleh falsafah Ibnu Rusyd, tetapi memperoleh ilham dari membaca karyanya.
Pemikiran Voltaire dan Rousseau telah mencetuskan  era Renaissance di Prancis sehingga meruntuhkan pengaruh Eropa keseluruhannya sebagaimana yang ada sekarang ini. Masyarakat Barat sebenarnya terhutang budi kepada Ibnu Rusyd karena pemikirannya, baik secara langsung ataupun tidak langsung, telah mencetuskan revolusi di benua Eropa.
Pemikirannya memungkinkan masyarakat di sana keluar dari zaman kegelapan menuju era kemajuan industri yang pesat. Rumah sakit Les Quinze-Vingt yang juga merupakan rumah sakit  pertama di Paris didirikan oleh Raja Louis IX  berdasarkan model rumah sakit Sultan Nuruddin di Damsyik yang dasar pembuatannya merupakan hasil dari pemikiran Ibnu Rusyd.
Ibnu Rusyd juga telah menulis sebuah buku tentang musik yang diberi judul De Anima Aristoteles (Commentary on the Aristotle's De Animo). Hasil karyanya ini membuktikan betapa  Ibnu Rusyd begitu terpengaruh dan tertarik oleh ilmu logika yang dikemukakan oleh ahli falsafah Yunani, Aristoteles.
Pembicaraan falsafah Ibnu Rusyd banyak tertumpu pada persoalan yang berkaitan dengan metafisika. Beliau telah mengemukakan pemikiran yang bernas lagi jelas.
Ketika Ibnu Rusyd memberi penekanan tentang kepentingan menjaga kesehatan. Beberapa pandangan yang dikemukakan dalam bidang kedokteran juga didapati mendahului zamannya. Beliau pernah menyatakan bahwa demam campak hanya akan dialami oleh setiap orang sekali saja.Beliau juga merangkum pembedahan dan fungsi organ di dalam tubuh manusia.
Ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Ibnu Rusyd turut menjangkau bidang yang berkaitan dengan sosial ketika beliau mencoba membuat pembagian masyarakat itu kepada dua golongan yaitu golongan elit yang terdiri dari ahli falsafah dan masyarakat awam.
Pembagian strata sosial ini merupakan asas pengenalan pembagian masyarakat berdasarkan kelas seperti yang dilakukan oleh ahli falsafah setelahnya, seperti Karl Max dan mereka yang sealiran dengannya.
Apabila melihat keterampilan Ibnu Rusyd dalam berbagai bidang ini, maka tidak ada keraguan lagi, beliau merupakan tokoh ilmuwan Islam yang tiada tandingannya. Malahan dalam banyak perkara, pemikiran Ibnu Rusyd jauh lebih besar dan berpengaruh jika dibandingkan dengan ahli falsafah yang pernah hidup sebelum zamannya ataupun selepas kematiannya.

Ibnu Taimiyah



Ibnu Taimiyah memiliki nama lengkap Taqiyyudin Ahmad bin Abdilhalim bin Taymiyah.Ia berasal dari keluarga taqwa. Ayahnya Syihabuddin bin Taymiyah. Seorang Syeikh, hakim, khatib, alim  dan wara. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taymiyah Al-Harrani, Syeikhul Islam, Ulama fiqih, ahli hadits, tafsir, Ilmu Ushul dan hafidz. Lahir di Harran, 10 Rabiul Awwal 661H pada zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam. Ketika berusia enam tahun, Taymiyah kecil dibawa ayahnya ke Damaskus.
Di Damaskus ia belajar pada banyak guru. Nahwu dan Ushul fiqih merupakan bagian dari ilmu yang diperolehnya. Di usia belia ia telah mereguk limpahan ilmu utama dari manusia utama. Dan satu hal ia dikaruniai Allah Ta'ala kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda, ia telah hafal Al-qur'an.
Tak hanya itu, iapun mengimbangi ketamakannya menuntut ilmu dengan kebersihan hatinya. Ia sangat suka menghadiri majelis-majelis mudzakarah (dzikir). Pada usia tujuh belas tahun kepekaannya terhadap dunia ilmu mulai kentara. Dan umur 19, ia telah memberi fatwa.
Ibnu Taimiyah sangat menguasai rijalul hadis (perawi hadis) dan fununul hadis (macam-macam hadits) baik yang lemah, cacat atau shahih. Beliau memahami semua hadis yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah, ia memiliki kehebatan yang luar biasa, sehingga mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir. Tiap malam ia menulis tafsir, fiqih, ilmu ushul sambil mengomentari para filosof. Sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang Syariah. Ibnul Warid menuturkan dalam Tarikul Ibnul Warid bahwa karangan beliau mencapai lima ratus judul.
Al-Washiti mengemukakan: "Demi Allah, syeikh kalian (Ibnu Taimiyah) memiliki keagungan khuluqiyah, amaliyah, ilmiyah dan mampu menghadapi tantangan orang-orang yang menginjak-injak hak Allah dan kehormatan-Nya”.
Dalam perjalanan hidupnya, beliau juga terjun ke masyarakat menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar. Ia tak mengambil sikap uzlah melihat merajalelanya kemungkaran. Suatu saat, dalam perjalanannya ke Damaskus, disebuah warung yang biasa jadi tempat berkumpulnya para pandai besi, ia melihat orang bermain catur. Ia langsung mendatangi tempat itu untuk mengambil papan catur dan membalikkannya. Mereka yang tengah bermain catur hanya termangu dan diam.
Beliau juga pernah mengobrak-abrik tempat pemabukkan dan pendukungnya. Bahkan, pernah pada suatu jumat, Ibnu Taimiyah dan pengikutnya memerangi penduduk yang tinggal digunung Jurdu dan Kasrawan karena mereka sesat dan rusak aqidahnya akibat perlakuan tentara tar-tar yang pernah menghancurkan kota itu. Beliau kemudian menerangkan hakikat Islam pada mereka.
Tak hanya itu, beliau juga seorang mujahid yang menjadikan jihad sebagai jalan hidupnya. Katanya: "Jihad kami dalam hal ini adalah seperti jihad Qazan, jabaliah, Jahmiyah, Ittihadiyah dan lain-lain. Perang ini adalah sebagian nikmat besar yang dikaruniakan Allah Ta'ala pada kita dan manusia. Namun kebanyakan manusia tak banyak mengetahuinya”.
Tahun 700H, Syam dikepung tentara tar-tar. Ia segera mendatangi walikota Syam guna memecahkan segala kemungkinan yang terjadi. Dengan mengemukakan ayat Alquran ia bangkitkan keberanian membela tanah air menghalau musuh. Kegigihannya itu membuat ia dipercaya untuk meminta bantusan Sultan di Kairo. Dengan argumentasi yang matang dan tepat, ia mampu menggugah hati Sultan. Ia kerahkan seluruh tentaranya menuju Syam sehingga akhirnya diperoleh kemenangan yang gemilang.
Pada Ramadhan 702H, beliau terjun sendiri ke medan perang Syuquq yang menjadi pusat komando pasukan tar-tar. Bersama tentara Mesir, mereka semua maju bersama dibawah komando Sultan. Dengan semangat Allahu Akbar yang menggema mereka berhasil mengusir tentara tar-tar. Syuquq dapat dikuasai.
Pemikiran Ibnu Taimiyah tak hanya merambah bidang syar'i, tapi juga mengupas masalah politik dan pemerintahan. Pemikiran beliau dalam bidang politik dapat dikaji dari bukunya Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah fi Naqdh Kalam As-Syi'ah wal Qadariyah (Jalan Sunnah Nabi dalam pemyangkalan terhadap keyakinan kalangan Syi'ah dan Qadariyah), As-Siyasah As-Syar'iyah (Sistem Politik Syariah), Kitab al-Ikhriyaratul  Ilmiyah (Kitab aturan-aturan yuridis yang berdiri sendiri) dan Al-Hisbah fil Islam (Pengamat terhadap kesusilaan masyarakat dalam Islam)
Sebagai penganut aliran salaf, beliau hanya percaya pada syariat dan aqidah serta dalil-dalilnya yang ditunjukkan oleh nash-nash. Karena nash tersebut merupakan wahyu yang berasal dari Allah Ta'ala. Aliran ini tak percaya pada metode logika rasional yang asing bagi Islam, karena metode semacam ini tidak terdapat pada masa sahabat maupun tabi'in. Baik dalam masalah Ushuludin, fiqih, akhlaq dan lain-lain, selalu ia kembalikan pada Alquran dan hadis yang mutawatir. Bila hal itu tidak dijumpai maka ia bersandar pada pendapat para sahabat, meskipun ia seringkali memberikan dalil-dalilnya berdasarkan perkataan tabi'in dan atsar-atsar yang mereka riwayatkan.
Menurut Ibnu Taimiyah, akal pikiran sangatlah terbatas. Apalagi dalam menafsirkan Alquran maupun hadis. Ia meletakkan akal pikiran dibelakang nash-nash agama yang tak boleh berdiri sendiri. Akal tak berhak menafsirkan, menguraikan dan mentakwilkan Alquran, kecuali dalam batas-batas yang diizinkan oleh kata-kata (bahasa) dan dikuatkan oleh hadis. Akal pikiran hanyalah saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil Alquran.
Bagi beliau tak ada pertentangan antara cara memakai dalil naqli yang shahih dengan cara aqli yang sharih. Akal tidak berhak mengemukakan dalil sebelum didatangkan dalil naqli. Bila ada pertentangan antara aqal dan pendengaran (sam'i) maka harus didahulukan dalil qath'i, baik ia merupakan dalil qath'i maupun sam'i.
Pribadi Ibnu Taimiyah memiliki banyak sisi. Sebuah peran yang sering terlihat adalah kegiatannya menentang segala bid'ah, khurafat dan pandangan-pandangan yang menurutnya sesat. Tak heran jika ia banyak mendapat tantangan dari para ulama.
"Sesungguhnya saya lihat ahli-ahli bid'ah, orang-orang yang besar diombang-ambingkan hawa nafsu seperti kaum mufalsafah (ahli falsafah), Bathiniyah (pengikut kebatinan), Mulahadah (mereka yang keras menentang Allah) dan orang-orang yang menyatakan diri dengan wihdatul wujud (bersatunya hamba dengan khaliq), Dahriyah (mereka yang menyatakan segalanya waktu yang menentukan), Qadhariyah (manusia berkehendak dan berkuasa atas segala kemauannya), Nashiriyah, Jamhiyah, Hulliyah, Muthilah, Mujassamah, Musyibihah, Rawandiyah, Kilabiyah, Salimiyah dan lain-lain yang terdiri atas orang-orang yang tenggelam dalam kesesatan, dan mereka yang telah tertarik masuk kedalamnya penuh sesat. Sebagian besar mereka bermaksud melenyapkan syariat Muhammad yang suci, yang berada diatas segala agama.
Para pemuka aliran sesat tersebut menyebabkan manusia berada dalam keraguan tentang dasar-dasar agama mereka. Sedikit sekali saya mendengar mereka menggunakan Alquran dan hadits dengan sebenarnya. Mereka adalah orang-orang zindiq yang tak yakin dengan agama. Setelah saya melihat semua itu, jelaslah bagi saya bahwa wajib bagi setiap orang yang mampu untuk menentang kebatilan serta melemahkan hujjah-hujjah mereka, untuk mengerahkan tenaganya dalam menyingkap keburukkan-keburukkannya dan membatalkan dalil-dalilnya”. Demikian diantara beberapa pendapatnya yang mendapat tantangan dari mereka yang merasa dipojokkan dan disalahkan.
Tahun 705H, kemampuan dan keampuhan Ibnu Taimiyah diuji. Para Qadhi berkumpul bersama Sultan di istana. Setelah melalui perdebatan yang sengit antara mereka, akhirnya jelah bahwa Ibnu Taimiyah memegang aqidah sunniyah salafiyah. Banyak diantara mereka menyadari akan kebenaran Ibnu Taimiyah.
Namun, upaya pendeskriditan terhadap pribadi Ibnu Taimiyah terus berlangsung. Dalam sebuah pertemuan di Kairo beliau dituduh meresahkan masyarakat melalui pendapat-pendapatnya yang kontroversial. Sang Qadhi yang telah terkena hasutan memutuskan Ibnu Taimiyah bersalah. Beliau diputuskan tinggal dalam penjara selama satu tahun beberapa bulan.
Dalam perjalanan hidupnya, ia tak hanya sekali merasakan kehidupan penjara. Tahun 726 H, berdasarkan fakta yang diputar balikkan, Sultan megeluarkan perintah penangkapannya. Mendengar ini Ibnu Taimiyah berkata, "Saya menunggu hal itu. Disana ada masalah dan kebaikkan banyak sekali”.
Kehidupan dalam penjara ia manfaatkan untuk membaca dan menulis. Tulisan-tulisannya tetap mengesankan kekuatan hujjah dan semangat serta pendapat beliau. Sikap itu malah mempersempit ruang gerak Ibnu Taimiyah. Tanggal 9 Jumadil Akhir 728H, semua buku, kertas, tinta dan penanya dirampas. Perampasan itu merupakan hantaman berat bagi Ibnu Taimiyah. Setelah itu ia lebih banyak membaca ayat suci dan beribadah. Memperbanyak tahajjud hingga keyakinanya makin mantap.
Setelah menderita sakit selama dua puluh hari, beliau menghadap Rabbnya sesuai dengan cita-citanya: mati membela kebenaran dalam penjara. Hari itu, tanggal 20 Dzulqaidah 728H pasar-pasar di Damaskus sepi-sepi. Kehidupan berhenti sejenak. Para pemimpin, ulama dan fuqaha, tentara, laki-laki dan perempuan, anak-anak kecil semuanya keluar rumah. Semua manusia turun kejalan mengantar jenazahnya.

Al-Jazari


”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin” (Donald Hill).

Kalimat di atas merupakan komentar Donald Hill, seorang ahli teknik asal Inggris yang tertarik dengan sejarah teknologi, atas buku karya ahli teknik Muslim yang ternama, Al-Jazari. Al Jazari merupakan seorang tokoh besar di bidang mekani dan industri. Lahir di Al-Jazira, yang terletak diantara sisi utara Irak dan timur laut Syiria, tepatnya antara Sungai tigris dan Efrat. Al-Jazari merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya. Nama lengkapnya adalah Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, selama abad kedua belas. Ibnu Ismail Ibnu Al-Razzaz al-Jazari mendapat julukan sebagai Bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, dan banyak lagi.
Ia dipanggil Al-Jazari karena lahir di Al-Jazira, sebuah wilayah yang terletak di antara Tigris dan Efrat, Irak. Seperti ayahnya ia mengabdi pada raja-raja Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari 1174 sampai 1200 sebagai ahli teknik.
Donald Routledge dalam bukunya Studies in Medieval Islamic Technology, mengatakan bahwa hingga zaman modern ini, tidak satupun dari suatu kebudayaan yang dapat menandingi lengkapnya instruksi untuk merancang, memproduksi dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang disusun oleh Al-Jazari. Pada 1206 ia merampungkan sebuah karya dalam bentuk buku yang berkaitan dengan dunia teknik. Beliau mendokumentasikan lebih dari 50 karya temuannya, lengkap dengan rincian gambar-gambarnya dalam buku, “al-Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi Fi Sinat ‘at al-Hiyal” (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Bukunya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik. Karyanya ini sangat berbeda dengan karya ilmuwan lainnya, karena dengan piawainya Al-Jazari membeberkan secara detail hal yang terkait dengan mekanika. Dan merupakan kontribusi yang sangat berharga dalam sejarah teknik.
Keunggulan buku tersebut mengundang decak kagum dari ahli teknik asal Inggris, Donald Hill (1974). Donald berkomentar bahwa dalam sejarah, begitu pentingnya karya Al-Jazari tersebut. Pasalnya, kata dia, dalam buku Al-Jazari, terdapat instruksi untuk merancang, merakit, dan membuat mesin.
Di tahun yang sama juga 1206, al-Jazari membuat jam gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami pengembangan robot masa sekarang. Kini replika jam gajah tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai bentuk penghargaan atas karya besarnya.
Pada acara World of Islam Festival yang diselenggarakan di Inggris pada 1976, banyak orang yang berdecak kagum dengan hasil karya Al-Jazari. Pasalnya, Science Museum merekonstruksi kerja gemilang Al-Jazari, yaitu jam air.
Ketertarikan Donald Hill terhadap karya Al-Jazari membuatnya terdorong untuk menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974, atau enam abad dan enam puluh delapan tahun setelah pengarangnya menyelesaikan karyanya.
Tulisan Al-Jazari juga dianggap unik karena memberikan gambaran yang begitu detail dan jelas. Sebab ahli teknik lainnya lebih banyak mengetahui teori saja atau mereka menyembunyikan pengetahuannya dari orang lain. Bahkan ia pun menggambarkan metode rekonstruksi peralatan yang ia temukan.
Karyanya juga dianggap sebagai sebuah manuskrip terkenal di dunia, yang dianggap sebagai teks penting untuk mempelajari sejarah teknologi. Isinya diilustrasikan dengan miniatur yang menakjubkan. Hasil kerjanya ini kerap menarik perhatian bahkan dari dunia Barat.
Dengan karya gemilangnya, ilmuwan dan ahli teknik Muslim ini telah membawa masyarakat Islam pada abad ke-12 pada kejayaan. Ia hidup dan bekerja di Mesopotamia selama 25 tahun. Ia mengabdi di istana Artuqid, kala itu di bawah naungan Sultan Nasir al-Din Mahmoud.
Al-Jazari memberikan kontribusi yang penting bagi dunia ilmu pengetahuan dan masyarakat. Mesin pemompa air yang dipaparkan dalam bukunya, menjadi salah satu karya yang inspiratif. Terutama bagi sarjana teknik dari belahan negari Barat.
Jika menilik sejarah, pasokan air untuk minum, keperluan rumah tangga, irigasi dan kepentingan industri merupakan hal vital di negara-negara Muslim. Namun demikian, yang sering menjadi masalah adalah terkait dengan alat yang efektif untuk memompa air dari sumber airnya.
Masyarakat zaman dulu memang telah memanfaatkan sejumlah peralatan untuk mendapatkan air, yaitu Shaduf maupun Saqiya. Shaduf dikenal pada masa kuno, baik di Mesir maupun Syria. Alat ini terdiri dari balok panjang yang ditopang di antara dua pilar dengan balok kayu horizontal.
Sementara Saqiya merupakan mesin bertenaga hewan. Mekanisme sentralnya terdiri dari dua gigi. Tenaga binatang yang digunakan adalah keledai maupun unta dan Saqiya terkenal pada zaman Roma.
Para ilmuwan Muslim melakukan eksplorasi peralatan tersebut untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Al-Jazari merintis jalan ke sana dengan menguraikan mesin yang mampu menghasilkan air dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dengan mesin yang pernah ada sebelumnya.
Al-Jazari, kala itu, memikul tanggung jawab untuk merancang lima mesin pada abad ketiga belas. Dua mesin pertamanya merupakan modifikasi terhadap Shaduf, mesin ketiganya adalah pengembangan dari Saqiya di mana tenaga air menggantikan tenaga binatang.
Satu mesin yang sejenis dengan Saqiya diletakkan di Sungai Yazid di Damaskus dan diperkirakan mampu memasok kebutuhan air di rumah sakit yang berada di dekat sungai tersebut.
Mesin keempat adalah mesin yang menggunakan balok dan tenaga binatang. Balok digerakkan secara naik turun oleh sebuah mekanisme yang melibatkan gigi gerigi dan sebuah engkol.
Mesin itu diketahui merupakan mesin pertama kalinya yang menggunakan engkol sebagai bagian dari sebuah mesin. Di Eropa hal ini baru terjadi pada abad 15. Dan hal itu dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa.
Pasalnya, engkol mesin merupakan peralatan mekanis yang penting setelah roda. Ia menghasilkan gerakan berputar yang terus menerus. Pada masa sebelumnya memang telah ditemukan engkol mesin, namun digerakkan dengan tangan. Tetapi, engkol yang terhubung dengan sistem roda di sebuah mesin yang berputar ceritanya lain.
Penemuan engkol mesin sejenis itu oleh sejarawan teknologi dianggap sebagai peralatan mekanik yang paling penting bagi orang-orang Eropa yang hidup pada awal abad kelima belas. Bertrand Gille menyatakan bahwa sistem tersebut sebelumnya tak diketahui dan sangat terbatas penggunaannya.
Pada 1206 engkol mesin yang terhubung dengan sistem roda sepenuhnya dikembangkan pada mesin pemompa air yang dibuat Al-Jazari. Ini dilakukan tiga abad sebelum Francesco di Giorgio Martini melakukannya.
Sedangkan mesin kelima, adalah mesin pompa yang digerakkan oleh air yang merupakan peralatan yang memperlihatkan kemajuan lebih radikal. Gerakan roda air yang ada dalam mesin itu menggerakan piston yang saling berhubungan.
Kemudian, silinder piston tersebut terhubung dengan pipa penyedot. Dan pipa penyedot selanjutnya menyedot air dari sumber air dan membagikannya ke sistem pasokan air. Pompa ini merupakan contoh awal dari double-acting principle. Taqi al-Din kemudian menjabarkannya kembali mesin kelima dalam bukunya pada abad keenam belas.

Ibnu Khaldun




Ibnu Khaldun atau nama sebenarnya Wali Al-Din Abdurahman bin Muhammad bin Abu Bakar Muhammad bin Al-Hasan lahir di Tunis pada 1 Ramadan 732H. Keluarganya berasal dari keturunan Arab Hadramaut yang pernah menetap di Servilla, Italy, dan Spanyol. Akhirnya berpindah dan menetap di Afrika Utara semasa pemerintahan Hafs Abu Zakariya, pemerintah Tunis pada waktu itu.
Ibnu Khaldun mendapat pendidikan dalam berbagai ilmu Islam seperti Alquran, hadis, perundang-undangan Islam, kesusastraan, falsafah, dan bahasa. Diantara gurunya ialah Muhammad Ibrahim Al-Abili, Abu Abdullah Al-Jayyani, Abdullah Muhammad bin Abd Al-Salam.
Ibnu Khaldun menjadi cendekiawan yang agung sehingga disanjung oleh Barat karena hasil jerih payahnya, akan tetapi jarang umat Islam yang mengajinya. Sebenarnya, sumbangan pemikiran Ibnu Khaldun dalam ekonomi banyak dimuat dalam hasil karya agungnya, Al-Muqaddimah. Antara teori ekonomi yang terdapat dalam karyanya masih layak digunakan hingga sekarang.
Ibnu Khaldun telah membicarakan beberapa prinsip dan falsafah ekonomi seperti keadilan (Justice), hardworking, kerja sama (cooperation), kesederhanaan (moderation), dan fairness.
Ibnu Khaldun telah menekankan bahwa keadilan merupakan tulang belakang ekonomi. Apabila keadilan tidak dapat dilaksanakan, sebuah negara akan hancur dan musnah.
Menurut beliau, ketidakadilan tidak saja difahami sebagai merampas uang atau harta orang lain tanpa sebab yang pasti. Akan tetapi, mengambil harta orang lain atau menggunakan tenaganya secara paksa atau membuat dakwaan palsu terhadap orang lain. Begitu juga kalau meminta seseorang melakukan sesuatu yang berlawanan dengan Islam.
Ketidakadilan seperti di atas membawa kepada runtuhnya sebuah. Menurut Ibnu Khaldun, atas sebab itulah semua bentuk ketidakadilan dilarang oleh Islam.
Berdasarkan analisa yang mendalam, didapati kesemua teori ekonomi Ibnu Khaldun tentang manusia berdasarkan kepada prinsip-prinsip dan falsafah Islam. Ibnu Khaldun tidak melihat fungsi utama manusia dalam aktivitas perekonomiannya seperti hewan ekonomi (economic animal). Sebaliknya beliau menganggap manusia itu sebagai manusia Islam (Islamic man/homo Islamicus) yang memerlukan pengetahuan ekonomi untuk memenuhi tujuannya di atas muka bumi ini.
Dalam hal ini, Ibnu Khaldun menekankan perlunya manusia menjauhi perbuatan jahat. Sebaliknya manusia wajib mengikuti ajaran Islam sebagai model untuk memperbaiki dirinya dan tidak melupakan kehidupan akhirat.
Ibnu Khaldun mengemukakan teori bahwa kehidupan perekonomian senantiasa mengarah ke arah pelaksanaan keseimbangan antara penawaran dengan permintaan.
Menurut Ibnu Khaldun semua usaha manusia dan semua tenaga buruh  perlu digunakan untuk mendapatkan modal dan keuntungan. Menurut Ibnu Khaldun juga harga barang terdiri dari tiga elemen utama yaitu gaji atau upah, keuntungan, dan cukai. Ketiga  elemen ini merupakan suatu hal yang akan tetap kembali kepada masyarakat.

Malik Bennabi

Malik Bennabi dilahirkan di Constantine, sebuah kota di Algeria Timur pada tahun 1906. Beliau mendapat pendidikan awal di sebuah Madrasah Alquran di Prancis. Karena kepintaran dan kepandaiannya, Malik mendapat beasiswa untuk meneruskan pengajiannya selama dua tahun di sekolah El-Djelis di Constantine.
Beliau berasal dari keluarga yang sederhana, namun berjiwa besar. Sewaktu melanjutkan pengajian diperingkat tinggi di Constantine, beliau sempat bertemu dengan Syeikh Abdul Majid dan Profesor Martin. Tokoh inilah yang banyak memengaruhi pemikirannya.
Setelah selesai pengajian, beliau pernah beberapa kali berkunjung ke Perancis.Kemudian beliau kawin dengan wanita Prancis yang telah memeluk Islam. Semasa belajar, beliau terlibat dalam berbagai Gerakan Pembaharuan. Di sinilah beliau banyak mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam dan mengikuti perkembangannya baik dalam atau luar Algeria seperti di Mesir, Hijaz, dan Maghribi.
Malik juga pernah menjabat sebagai Pegawai Pendaftar Mahkamah di Huran. Dalam tempo itu beliau berkesempatan bertemu dengan masyarakat untuk mengetahui masalah mereka yang berada di bawah penjajahan Prancis. Setelah Algeria merdeka pada tahun 1963, beliau menyandang jabatan Pengarah di Kementerian Pendidikan hingga tahun 1967.
Berdasarkan sejarah awalnya,  Malik tidak berkeinginan untuk menjadi seorang ahli falsafah, namun perkembangan dan keadaan zaman mengubah segalanya. Keadaan ketika itu telah memberi kesan mendalam dalam diri dan keperibadian beliau. Pengalaman itu memberi inspirasi kepadanya dalam memperjuangkan Islam dan meninggikan umat dan bangsa.
Sebenarnya, perjalanan hidup beliau pada zaman  penjajahan Prancis menyadarkannya tentang kemunduran masyarakat Islam. Lebih lagi mereka  mengubah identitas dan nilai-nilai kebudayaan Islam dalam diri masyarakat Islam. Keadaan ini menyebabkan beliau mau membebaskan pemikiran penjajah dalam jiwa rakyatnya.
Malik mempunyai minat yang mendalam dalam mempelajari dan membaca karya yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh terkenal. Oleh sebab itu, karya-karya tokoh Islam seperti Syeikh Al-Maulud bin Al-Mauhub, Ibnu Hasib dari Algeria, dan pemimpin Mesir seperti Muhammad Abduh secara tidak langsung telah memengaruhi pemikiran beliau.
Selain itu, buku Risalah Tauhid karya Muhammad Abduh dan Keruntuhan Akhlak dalam Politik Barat oleh Rashid Redha, telah menyadarkan Malik tentang masalah umat Islam. Masalah keruntuhan akhlak dan kemiskinan intelektual yang semakin ketara perlu diselamatkan.
Beliau banyak meninggalkan koleksi karya, buku, dan buku ilmiyah yang dapat menyumbang ilmu pengetahuan dan dimanfaatkan oleh dunia Islam masa sekarang.
Karya beliau yang ditulis dalam Bahasa Arab telah diterjemahkan, antaranya ialah: The Problem of Culture, The Ideological Struggle In Colonised Countries, The New Social Editification, The Idea of an Islamic Commonwealth.
Hasil tulisannya dalam Bahasa Prancis juga ada yaitu ialah: The Qur'anic Phenomenon, Vocation De Li Islam, Reflections, Memoirs Malik, The Work of Orientalistes, Islam et Democratic, Islam In History and Society.
Malik telah dianugerahi oleh  Allah swt keistimewaan, yaitu pemikiran yang sangat tajam dan mendalam dari segi penghayatannya. Pandangannya tentang Islam sentiasa mendapat tumpuan cendekiawan-cendekiawan Islam di Timur Tengah dan Eropa karena sering menyentuh sesuatu isu secara global.
Menurut beliau, masyarakat Islam bisa membangun peradaban Islam dengan kembali kepada fitrah diri mereka  sendiri.  Mereka  perlu menghayati Islam dan membina akidah  yang  mantap. Kemudian mengangkat diri mereka ketahap peradaban yang terkini dengan menyempurnakan diri dengan pengetahuan teknologi.
Malik dianggap sebagai pemikir dan sarjana yang paling menonjol di Algeria selepas Perang Dunia Kedua. Sebagai seorang ahli falsafah, ketokohan beliau sebanding dengan Iqbal. Nama beliau awal dikenal oleh orang banyak karena kebanyakan karyanya berkisar mengenai masyarakat Islam. Pemikirannya banyak menyentuh tentang penderitaan dan gejala sosial yang dialami masyarakat Islam.
Cetusan pemikiran beliau tidak hanya dijadikan kajian oleh sarjana-sarjana Islam, bahkan mulai dipraktikkan oleh negara-negara Islam masa kini. Peranan dan jasa beliau sangat berharga kepada dunia Islam.Tujuan beliau adalah memperjuangkan bangsa mereka dari belenggu penjajahan. Beliau meninggal dunia pada 31 Oktober 1973.

Ahmed Hoosen Deedat





"Do da'wah as the christians are working hard in Iran.Use my material and pray for me"
[Ahmed Deedat]


Ahmed Hoosen Deedat lahir di daerah Surat, India, pada tahun 1918. Ia tidak dapat berkumpul dengan ayahnya sampai tahun 1926. Ayahnya adalah seorang penjahit yang karena profesinya, hijrah berimigrasi ke Afrika Selatan tidak lama setelah kelahiran Ahmed Deedat.
Tanpa pendidikan formal dan untuk menghindar dari kemiskinan yang sangat pedih, Ahmed Deedat pergi ke Afrika Selatan untuk dapat hidup bersama ayahnya pada tahun 1927. Perpisahan Deedat dengan ibunya pada tahun kepergiannya ke Afrika Selatan menyusul ayahnya itu adalah saat terakhir ia bertemu ibunya dalam keadaan hidup karena beliau meninggal beberapa bulan kemudian.
Di negeri yang asing, seorang anak laki-laki kecil berusia 9 tahun tanpa berbekal pendidikan formal dan penguasaan bahasa Inggris mulai menyiapkan peran yang harus dimainkannya berpuluh-puluh tahun kemudian tanpa disadarinya.
Dengan ketekunannya dalam belajar, anak laki-laki kecil tersebut tidak hanya dapat mengatasi hambatan bahasa, tetapi juga unggul di sekolahnya. Kurangnya biaya menyebabkan sekolahnya tertunda dan di awal usia 16 tahun untuk pertama kalinya iA bekerja dalam bidang retail (eceran).
Yang terpenting dari ini semua adalah pada tahun 1936 sewaktu Ia bekerja pada toko muslim di dekat sebuah sekolah menengah Kristen di pantai selatan Natal. Penghinaan yang tak henti-hentinya dari siswa misionaris menantang Islam selama kunjungan mereka ke toko menanamkan keinginan yang membara pada diri anak muda tersebut untuk melakukan aksi menghentikan propaganda mereka yang salah.
Sudah ditakdirkan, Ahmed Deedat menemukan sebuah buku berjudul Izharul-Haq yang berarti mengungkapkan kebenaran. Buku ini berisi teknik-teknik dan keberhasilan usaha-usaha umat Islam di India yang sangat besar dalam membalas gangguan misionaris Kristen selama penaklukan Inggris dan pemerintahan India. Secara khusus, ide untuk menangani debat telah berpengaruh besar dalam diri Ahmed Deedat.
Dibekali dengan semangat yang baru ditemukannya ini, Ahmed Deedat membeli Injil pertamanya dan mulai melakukan debat dan diskusi dengan siswa-siswa misionaris. Ketika mereka mundur tergesa-gesa tidak beraturan dalam menghadapi argumen baliknya yang tajam, ia secara pribadi memanggil guru mereka dan bahkan pendeta-pendeta di daerah tersebut.
Keberhasilan-keberhasilan ini memacu Ahmed Deedat untuk berda'wah. Bahkan perkawinan, kelahiran anak, dan singgah sebentar selama tiga tahun ke Pakistan sesudah kemerdekaannya tidak mengurangi antusias atau keinginannya untuk membela Islam dari penyimpangan-penyimpangan yang memperdayakan dari para misionaris Kristen.
Dengan semangat misionaris untuk memproyeksikan kebenaran dan keindahan Islam, Ahmed Deedat membenamkan dirinya pada sekumpulan kegiatan lebih dari tiga dekade yang akan datang. Ia memimpin kelas untuk pelajaran Injil dan memberi sejumlah kuliah. Ia mendirikan As-Salaam, sebuah institut untuk melatih para dai Islam. Ahmed Deedat, bersama-sama dengan keluarganya, hampir seorang diri mendirikan bangunan-bangunan termasuk masjid yang masih dikenal sampai saat ini.
Ahmed Deedat anggota awal dari Islamic Propagation Centre International (IPCI). Ia menerbitkan lebih dari 20 buku dan menyebarkan berjuta-juta salinan gratis.
Ahmed Deedat mengirim beribu-ribu materi kuliah ke seluruh dunia dan berhasil melawan pengabar-pengabar Injil pada debat umum. Beberapa ribu orang telah menjadi Islam sebagai hasil usahanya.
Sebagai penghargaan yang pantas untuk prestasi yang bersejarah itu, ia mendapat penghargaaan internasional dari Raja Faisal tahun 1986. Penghargaan bergengsi yang sangat berharga dalam dunia Islam.

Dr. Yusuf Al-Qaradawi




Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal Alquran. Menamatkan pendidikan di Mahad Thantha dan Mahad Tsanawi, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas Al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952.
Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi "Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan", yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqih Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.
Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.
Dalam perjalanan hidupnya, Qardhawi pernah mengenyam pendidikan penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk penjara tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.
Qardhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidakadilan rejim saat itu.
Qardhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya.
Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.
Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.
Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Qardhawi terhadap pendidikan modern. Dari tujuh anaknya, hanya satu yang belajar di Universitas Darul Ulum Mesir dan menempuh pendidikan agama. Sedangkan yang lainnya, mengambil pendidikan umum dan semuanya ditempuh di luar negeri. Sebabnya ialah, karena Qardhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Qardhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Mereka berkata tentang Dr. Yusuf Al Qaradawi sebagai berikut :
1. Hasan Al-Banna : "Sesungguhnya ia adalah seorang penyair yang jempolan dan berbakat".
2. Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz mantan mufti kerajaan Saudi berkata: "Buku-bukunya memiliki bobot ilmiyah dan sangat berpengaruh di dunia Islam."
3. Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani ahli hadis terkemuka abad 20 berkata, "Saya diminta (Al-Qaradawi) untuk meneliti riwayat hadis serta menjelaskan keshahihan dan ke dha'ifan hadis yang terdapat dalam bukunya (Halal wal Haram). Hal itu menunjukkan ia memiliki akhlak yang mulia dan pribadi yang baik. Saya mengetahui semua secara langsung. Setiap dia bertemu saya dalam satu kesempatan, ia akan selalu menanyakan kepada saya tentang hadis atau masalah fiqih. Dia melakukan itu agar ia mengetahui pendapat saya mengenai masalah itu dan ia dapat mengambil manfaat dari pendapat saya tersebut. Itu semua menunjukkan kerendahan hatinya yang sangat tinggi serta kesopanan dan adab yang tiada tara. Semoga Allah SWT mendatangkan manfaat dengan keberadaannya”.
4. Imam Abul Hasan An-Nadwi, ulama terkenal asal India berkata: "Al-Qaradawi adalah seorang alim yang sangat dalam ilmunya sekaligus sebagai pendidik kelas dunia”.
5. Al-Allamah Musthafa Az-Zarqa, ahli fiqih asal Suriah berkata: "Al-Qaradawi adalah Hujjah zaman ini dan ia merupakan nikmat Allah atas kaum muslimin."
6. Al-Muhaddis Abdul Fattah Abu Ghuddah, ahli hadis asal Suriah dan tokoh Ikhwanul Muslimin berkata: "Al-Qaradawi adalah mursyid kita. Ia adalah seorang Allamah."
7. Syeikh Qadhi Husein Ahmad, amir Jami’ah Islami Pakistan berkata: "Al-Qaradawi adalah madrasah ilmiyah fiqhiyah dan da'awiyah. Wajib bagi umat untuk mereguk ilmunya yang sejuk."
8. Syeikh Thaha Jabir Al-Ulwani, direktur International Institute of Islamic Thought di AS - berkata: "Al Qaradawi adalah faqihnya para dai dan dainya para faqih."
9. Syeikh Muhammad Al-GhazalI, dai dan ulama besar asal Mesir yang pernah menjadi guru Al-Qaradawi sekaligus tokoh Ikhwanul Muslimin berkata: "Al Qaradawi adalah salah seorang Imam kaum muslimin zaman ini yang mampu menggabungkan fiqih antara akal dengan atsar." Ketika ditanya lagi tentang Al-Qaradawi, ia menjawab, "Saya gurunya, tetapi ia ustadku. Syeikh dulu pernah menjadi muridku, tetapi kini ia telah menjadi guruku."
10. Syeikh Abdullah bin Baih, dosen Universitas Malik Abdul Aziz di Saudi berkata: "Sesungguhnya Allamah Dr. Yusuf Al-Qaradawi adalah sosok yang tidak perlu lagi pujian karena ia adalah seorang alim yang memiliki keluasan ilmu bagaikan samudera. Ia adalah seorang dai yang sangat berpengaruh. Seorang murabbi generasi Islam yang sangat jempolan dan seorang reformis yang berbakti dengan amal dan perkataan. Ia sebarkan ilmu dan hikmah karena ia adalah sosok pendidik yang profesional."